China, India, dan Brasil Diuntungkan Tarif Baru Trump, Sekutu AS Malah Rugi
Jum'at, 27 Februari 2026 - 11:25 WIB
Dalam pembalikan cepat, negara-negara yang sebelumnya paling terdampak tarif tinggi kini menikmati beban yang lebih ringan. Meski Trump kemudian mengumumkan rencana tarif global 15%, Bloomberg Economics menghitung tarif efektif rata-rata menjadi sekitar 12%, terendah sejak kebijakan tarif "Hari Pembebasan" diumumkan pada April.
Untuk kawasan Asia, Morgan Stanley memperkirakan tarif rata-rata tertimbang turun menjadi 17% dari sebelumnya 20%. Tarif rata-rata barang asal China juga menyusut menjadi 24% dari 32%, termasuk pembatalan tarif fentanyl sebesar 10% yang sebelumnya dikenakan pada Negeri Tirai Bambu.
Kondisi ini secara efektif mereset posisi kompetitif mitra dagang AS. Namun, sejumlah negara sekutu seperti Inggris dan Australia justru berada dalam posisi kurang menguntungkan karena sebelumnya telah bernegosiasi tarif lebih rendah 10% dalam kerangka resiprokal lama, yang kini tersisih oleh skema baru 15%.
Reaksi pasar mencerminkan ketidakpastian lanjutan. Dolar AS dan kontrak berjangka S&P 500 melemah, sementara saham China di Hong Kong menguat. Pejabat senior AS mendesak Uni Eropa dan Jepang untuk tetap berpegang pada komitmen negosiasi sebelumnya, sembari mendorong perpanjangan gencatan senjata dagang dengan China menjelang rencana kunjungan Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden Xi Jinping.
“Kami ingin memastikan bahwa China mematuhi bagian kesepakatan mereka,” kata Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer kepada Fox News Sunday. "Artinya mereka terus membeli produk yang mereka katakan akan dibeli."
Untuk kawasan Asia, Morgan Stanley memperkirakan tarif rata-rata tertimbang turun menjadi 17% dari sebelumnya 20%. Tarif rata-rata barang asal China juga menyusut menjadi 24% dari 32%, termasuk pembatalan tarif fentanyl sebesar 10% yang sebelumnya dikenakan pada Negeri Tirai Bambu.
Kondisi ini secara efektif mereset posisi kompetitif mitra dagang AS. Namun, sejumlah negara sekutu seperti Inggris dan Australia justru berada dalam posisi kurang menguntungkan karena sebelumnya telah bernegosiasi tarif lebih rendah 10% dalam kerangka resiprokal lama, yang kini tersisih oleh skema baru 15%.
Reaksi pasar mencerminkan ketidakpastian lanjutan. Dolar AS dan kontrak berjangka S&P 500 melemah, sementara saham China di Hong Kong menguat. Pejabat senior AS mendesak Uni Eropa dan Jepang untuk tetap berpegang pada komitmen negosiasi sebelumnya, sembari mendorong perpanjangan gencatan senjata dagang dengan China menjelang rencana kunjungan Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden Xi Jinping.
“Kami ingin memastikan bahwa China mematuhi bagian kesepakatan mereka,” kata Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer kepada Fox News Sunday. "Artinya mereka terus membeli produk yang mereka katakan akan dibeli."
Lihat Juga :