Perang Iran vs AS-Israel, Ini Imbasnya ke Kantong Warga RI
Minggu, 01 Maret 2026 - 21:01 WIB
Lebih jauh, situasi ketidakpastian global seperti saat ini biasanya memicu investor untuk masuk ke mode risk-off. Dana-dana akan dialihkan ke aset aman seperti dolar AS yang berpotensi besar menyebabkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah mengalami pelemahan.
Menurut dia kondisi ini menempatkan otoritas moneter dalam posisi sulit. Rizal memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan fokus pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dibandingkan melonggarkan kebijakan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Jadi investor akan pindah ke dolar US, biasanya mata uang emerging market juga akan melemah, padahal situasi kondisi ekonomi dan juga pasar uang kita juga sedang mengalami tantangan cukup berat. Dan bagi otoritas moneter, ini tentu akan menjadi lebih fokus kepada menjaga Rupiah daripada menurunkan suku bunga," ujarnya.
Baca Juga: Mojtaba, Putra Khamenei, Diajukan sebagai Calon Pemimpin Tertinggi Iran
Dampak konflik juga berpotensi mengganggu arus modal masuk ke Indonesia. Jika inflasi global meningkat akibat lonjakan harga energi, bank sentral negara maju kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Akibatnya, dana asing berpotensi keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Menurut dia kondisi ini menempatkan otoritas moneter dalam posisi sulit. Rizal memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan fokus pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dibandingkan melonggarkan kebijakan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Jadi investor akan pindah ke dolar US, biasanya mata uang emerging market juga akan melemah, padahal situasi kondisi ekonomi dan juga pasar uang kita juga sedang mengalami tantangan cukup berat. Dan bagi otoritas moneter, ini tentu akan menjadi lebih fokus kepada menjaga Rupiah daripada menurunkan suku bunga," ujarnya.
Baca Juga: Mojtaba, Putra Khamenei, Diajukan sebagai Calon Pemimpin Tertinggi Iran
Dampak konflik juga berpotensi mengganggu arus modal masuk ke Indonesia. Jika inflasi global meningkat akibat lonjakan harga energi, bank sentral negara maju kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Akibatnya, dana asing berpotensi keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Lihat Juga :