Wamenkeu Juda Agung Bicara Soal Efek Perang AS-Israel dan Iran, Apakah APBN Siap?
Selasa, 03 Maret 2026 - 08:56 WIB
Meski demikian, Juda menitikberatkan inflasi harga minyak bakal berpotensi membesar akibat Iran memblokade Selat Hormuz. Dampaknya nilai tukar rupiah, terutama terhadap dolar AS juga tak akan terelakkan. Sehingga, ada tekanan pada ruang fiskal nasional.
"Satu dolar kenaikan ICP (Indonesian Crude Price) itu menyebabkan kenaikan defisit 6,8 triliun. Kemudian 100 rupiah per US Dollar pelemahan nilai tukar itu dampaknya sekitar 0,8 triliun. Dan kepada yield juga akan menambah sekitar 1,9 triliun (ketika naik 0,1 persen), budget defisit," urai Juda.
Juda menekankan prediksi konflik yang terjadi semestinya digambarkan sampai skenario terburuk. Tapi, terkini pemerintah memetakan risiko-risiko secara fiskal maupun moneter dalam tataran di permukaan atau masuk akal untuk dipertimbangkan sebagai landasan mengambil kebijakan ekonomi.
"Ya katakanlah misalnya harga minyak di atas 100 (dolar AS/barel), 150 dolar dan sebagainya, tentu saja ini fiskalnya tentu akan berdampak.Tapi, kami melihat foreseeable future. Dalam horizon misalnya katakanlah naik sampai 75 dolar AS per barel pun, itu di dalam skenario kami masih di dalam range APBN," kata Huda.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia di Triwulan IV 2025 Naik Tembus Rp7.262 Triliun, Ini Porsi Terbesarnya
"Satu dolar kenaikan ICP (Indonesian Crude Price) itu menyebabkan kenaikan defisit 6,8 triliun. Kemudian 100 rupiah per US Dollar pelemahan nilai tukar itu dampaknya sekitar 0,8 triliun. Dan kepada yield juga akan menambah sekitar 1,9 triliun (ketika naik 0,1 persen), budget defisit," urai Juda.
Juda menekankan prediksi konflik yang terjadi semestinya digambarkan sampai skenario terburuk. Tapi, terkini pemerintah memetakan risiko-risiko secara fiskal maupun moneter dalam tataran di permukaan atau masuk akal untuk dipertimbangkan sebagai landasan mengambil kebijakan ekonomi.
"Ya katakanlah misalnya harga minyak di atas 100 (dolar AS/barel), 150 dolar dan sebagainya, tentu saja ini fiskalnya tentu akan berdampak.Tapi, kami melihat foreseeable future. Dalam horizon misalnya katakanlah naik sampai 75 dolar AS per barel pun, itu di dalam skenario kami masih di dalam range APBN," kata Huda.
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia di Triwulan IV 2025 Naik Tembus Rp7.262 Triliun, Ini Porsi Terbesarnya
Lihat Juga :