Harga Gas Melonjak di Tengah Gejolak Timur Tengah, Eropa Sudah Naik 50%

Kamis, 05 Maret 2026 - 08:52 WIB
Kenaikan harga gas terjadi saat Presiden AS Donald Trump menunjukkan bahwa operasi militer terhadap Iran bisa berlanjut selama beberapa minggu. Di sisi lain sejumlah besar perusahaan asuransi maritim besar bersiap untuk menghentikan perlindungan risiko perang bagi kapal yang memasuki Teluk Persia.

Serangan militer yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pada hari Sabtu, lalu tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Serangan intens dilaporkan telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat senior lainnya, termasuk kepala Korps Pengawal Revolusi Islam.

Sedangkan Teheran merespons dengan serangan udara terhadap Israel dan beberapa negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS. Sebagai tanda eskalasi regional lebih lanjut, Hezbollah Lebanon telah memasuki pertempuran dengan serangan lintas perbatasan terhadap posisi militer Israel, yang memicu serangan udara balasan terhadap infrastruktur dan situs komando kelompok tersebut.

Seperti dilansir RT, para analis termasuk Goldman Sachs memperkirakan bahwa penghentian pengiriman selama sebulan melalui Selat Hormuz dapat meningkatkan harga gas Eropa hingga 130% dari tingkat saat ini. Hal itu tentunya memberi tekanan kembali pada rumah tangga dan industri.

Kirill Dmitriev, utusan presiden Rusia dan kepala dana kekayaan negara Rusia, berpendapat bahwa lonjakan harga terbaru menyoroti biaya dari keputusan Eropa untuk menjauh dari bahan bakar Rusia.

Dalam sebuah postingan di media sosial, Ia menyebutkan bahwa harga gas Uni Eropa “dapat meningkat lebih dari dua kali lipat dalam waktu dekat”. Ia juga mengklaim bahwa “kesalahan strategis blok tersebut dalam menghindari gas Rusia yang murah dan andal justru berbalik merugikan.”
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!