Evaluasi MBG Diperketat, 1.512 SPPG di Jawa Dihentikan Sementara

Jum'at, 13 Maret 2026 - 15:19 WIB
"Masyarakat biasanya tidak melihat itu. Mereka lebih sering memprotes jumlahnya yang dinilai sedikit, atau jenis lauknya apa. Padahal, esensinya ada pada ragam makanan yang mewakili kebutuhan tubuh dan ketepatan porsinya," tambahnya.

Ia menilai program MBG memiliki potensi besar sebagai sarana edukasi gizi bagi masyarakat luas. Hal ini penting mengingat tingkat konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia masih sangat rendah.

"Orang Indonesia itu makannya kacau. Data menemukan bahwa warga yang cukup makan sayur dan buah itu cuma sekitar 6 persen. Artinya, 94 persen masyarakat kita kurang makan sayur dan buah," tegas Risang.

Baca Juga: MBG Dinilai Perkuat Solidaritas dan Semangat Belajar Siswa, Ini Hasil Risetnya

Menurutnya, kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses yang berpotensi memicu penyakit tidak menular seperti kanker, stroke, dan diabetes pada usia produktif. Oleh karena itu, ia menilai MBG tidak hanya menjadi program bantuan pangan, tetapi juga instrumen perubahan perilaku makan masyarakat.

"Jepang berhasil mengedukasi masyarakatnya untuk memiliki perilaku makan yang benar melalui model makan siang berbasis sekolah. MBG sebetulnya sangat strategis untuk menciptakan perubahan perilaku masyarakat Indonesia ke arah yang lebih baik," pungkasnya.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!