Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Brent Tembus Level Tertinggi Sejak 2022

Senin, 23 Maret 2026 - 10:00 WIB
Dana Moneter Internasional (IMF) turut mengeluarkan peringatan senada mengenai risiko output ekonomi global. Juru bicara IMF, Julie Kozack, menyebutkan, jika harga minyak bertahan di atas USD100 selama setahun, output ekonomi global bisa turun sekitar satu persen disertai kenaikan inflasi hingga dua poin persentase.

Bank Sentral AS, Federal Reserve, merespons situasi ini dengan menaikkan prakiraan inflasi mereka meski tetap mempertahankan suku bunga stabil pada pekan lalu. Tekanan harga akibat sektor energi dianggap menjadi faktor utama yang membuat prospek ekonomi dunia semakin kabur dan penuh ketidakpastian.

Meskipun terdapat skenario harga minyak bisa kembali melandai jika konflik berakhir singkat, ketegangan di lapangan menunjukkan tanda-tanda yang sebaliknya. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) kini telah merevisi rata-rata harga Brent tahun 2026 menjadi 78,84 dolar AS per barel dengan asumsi gangguan mulai mereda pada April mendatang.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!