Efek Perang Iran, Inflasi AS Diramal Melonjak Tajam Imbas Kenaikan Harga BBM
Senin, 06 April 2026 - 08:07 WIB
Indikator utama Federal Reserve, indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti, juga terpantau naik 0,4% pada Februari menandakan tekanan harga sudah muncul sebelum konflik Timur Tengah memburuk.
Tekanan inflasi membandel ini ditambah stabilisasi pasar tenaga kerja membatasi ruang The Fed menurunkan suku bunga. Gejolak geopolitik semakin menambah ketidakpastian kebijakan moneter AS ke depan.
Baca Juga: Gelombang Kelangkaan BBM Hantam Prancis, 900 SPBU Kehabisan Stok
Adapun dampaknya meluas secara global dengan bank sentral di India, Korea Selatan, dan Eropa memilih menahan suku bunga. Di Asia, China, Filipina, dan Thailand berpotensi mengalami inflasi lebih tinggi. Sedangkan, Eropa mencatat kenaikan inflasi terbesar sejak 2022 akibat biaya energi, sementara Amerika Latin seperti Brasil dan Meksiko tertekan lonjakan harga minyak.
Secara keseluruhan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproyeksikan harga minyak naik 45%. Jika perang Iran berlanjut, tekanan inflasi global berpotensi menghambat pemulihan ekonomi di berbagai negara.
Tekanan inflasi membandel ini ditambah stabilisasi pasar tenaga kerja membatasi ruang The Fed menurunkan suku bunga. Gejolak geopolitik semakin menambah ketidakpastian kebijakan moneter AS ke depan.
Baca Juga: Gelombang Kelangkaan BBM Hantam Prancis, 900 SPBU Kehabisan Stok
Adapun dampaknya meluas secara global dengan bank sentral di India, Korea Selatan, dan Eropa memilih menahan suku bunga. Di Asia, China, Filipina, dan Thailand berpotensi mengalami inflasi lebih tinggi. Sedangkan, Eropa mencatat kenaikan inflasi terbesar sejak 2022 akibat biaya energi, sementara Amerika Latin seperti Brasil dan Meksiko tertekan lonjakan harga minyak.
Secara keseluruhan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproyeksikan harga minyak naik 45%. Jika perang Iran berlanjut, tekanan inflasi global berpotensi menghambat pemulihan ekonomi di berbagai negara.
(nng)
Lihat Juga :