Ekonom CSIS Usul Skema Baru MBG agar APBN Tetap Terjaga

Jum'at, 08 Mei 2026 - 21:07 WIB
Kepala SPPG Kadiwano, Edwin Putra Kadege, mengatakan saat ini dapur MBG yang dia kelola melayani sekitar 2.000 penerima manfaat yang tersebar di 15 sekolah mulai dari jenjang taman kanak-kanan (TK) hingga sekolah menengah atas (SMA).

Tentu saja kebutuhan akan bahan baku menjadi besar. Dan ini bisa dipenuhi melalui kerja sama dengan petani lokal. SPPG Kadiwano membutuhkan puluhan bahkan ratusan kilogram sayur-sayuran seperti kacang-kacangan, wortel, atau sawi.

"Jadi, memang kami memberdayakan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) di sekitar SPPG. Dengan adanya MBG, manfaat tidak hanya untuk adik-adik sekolah, tapi lebih luas kepada masyarakat," kata Edwin.

Untuk menjaga stabilitas stok dan mencegah penumpukan hasil panen, SPPG juga mengatur jadwal suplai setiap minggunya. Hal ini dilakukan agar komoditas yang ditanam petani bisa terserap optimal. "Ada yang tanam wortel, ada yang tanam sawi, terus ada yang fokus pisang. Supaya jangan menumpuk. Karena kalau menumpuk kewalahan juga," kata dia.

Baca Juga: Program MBG Dinilai Memberikan Dampak Nyata, Ini Data Pendukungnya

Keberadaan dapur MBG pun menjadi berkah tersendiri bagi ibu rumah tangga (IRT). Mereka diberdayakan untuk memasak. "Rata-rata yang kerja di kami itu adalah ibu rumah tangga yang selama ini tidak mendapatkan peluang bekerja," kata Edwin.

Keberlanjutan MBG Di Tengah Tekanan Fiskal
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!