Rekor Terburuk Lagi, Rupiah Tembus Rp18.187 per Dolar AS Sore Ini

Senin, 08 Juni 2026 - 15:58 WIB
Di tengah eskalasi tersebut, Presiden AS Donald Trump masih meyakini peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik tetap terbuka. Namun, pasar menilai ketidakpastian geopolitik masih tinggi, terlebih Iran dikabarkan menjadikan gencatan senjata sebagai salah satu syarat dalam pembahasan kesepakatan dengan Washington.

Dari sisi ekonomi AS, data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan turut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah. Ekonomi AS pada Mei 2026 tercatat menambah 172 ribu lapangan kerja, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 85 ribu pekerjaan.

Selain itu, data April direvisi naik menjadi 179 ribu pekerjaan dari sebelumnya 115 ribu, sementara tingkat pengangguran tetap berada di level 4,3 persen. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS atau The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS yang akan diumumkan pada pertengahan pekan ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pasar juga masih mencermati agenda belanja pemerintah yang besar, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Kekhawatiran muncul karena pelebaran defisit transaksi berjalan terjadi bersamaan dengan menyusutnya surplus perdagangan Indonesia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!