Rupiah Jeblok Lagi, Dolar AS Makin Dekati Level Rp18.000
Rabu, 24 Juni 2026 - 17:29 WIB
Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, pasar masih dibayangi ketidakpastian terkait kebijakan sanksi terhadap Iran dan potensi penjualan minyak yang memicu volatilitas pasar global.
Selain itu, ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish The Fed juga semakin menguat. Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS mencapai 70% pada September dan berlanjut hingga Desember 2026. Investor kini menantikan rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis sebagai indikator utama inflasi.
Dari dalam negeri, sentimen pasar relatif lebih stabil setelah MSCI memutuskan menunda evaluasi aksesibilitas pasar Indonesia hingga November 2026. Sebelumnya, MSCI sempat membekukan perubahan indeks ekuitas Indonesia pada Januari lalu akibat kendala investability.
Menurut Ibrahim, hasil evaluasi MSCI menjadi perhatian investor global karena mencerminkan persepsi terhadap kualitas, efisiensi, dan keterbukaan pasar modal Indonesia. Kendati demikian, pasar masih menunggu kepastian hasil peninjauan tersebut.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun pada semester II 2026. Stimulus tersebut meliputi insentif perpajakan, dukungan sektor transportasi dan industri, serta perluasan bantuan sosial guna menjaga daya beli masyarakat dan aktivitas usaha.
Selain itu, ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish The Fed juga semakin menguat. Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS mencapai 70% pada September dan berlanjut hingga Desember 2026. Investor kini menantikan rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis sebagai indikator utama inflasi.
Dari dalam negeri, sentimen pasar relatif lebih stabil setelah MSCI memutuskan menunda evaluasi aksesibilitas pasar Indonesia hingga November 2026. Sebelumnya, MSCI sempat membekukan perubahan indeks ekuitas Indonesia pada Januari lalu akibat kendala investability.
Menurut Ibrahim, hasil evaluasi MSCI menjadi perhatian investor global karena mencerminkan persepsi terhadap kualitas, efisiensi, dan keterbukaan pasar modal Indonesia. Kendati demikian, pasar masih menunggu kepastian hasil peninjauan tersebut.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik, pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun pada semester II 2026. Stimulus tersebut meliputi insentif perpajakan, dukungan sektor transportasi dan industri, serta perluasan bantuan sosial guna menjaga daya beli masyarakat dan aktivitas usaha.
Lihat Juga :