Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Perang, Mengapa Bensin Tak Ikut Turun?

Senin, 29 Juni 2026 - 08:19 WIB
Harga minyak dan bensin sebelumnya melonjak tajam selama perang dengan Iran. Rata-rata harga bensin nasional di Amerika Serikat sempat menembus USD4,50 per galon pada awal tahun ini setelah Iran mampu mengganggu jalur pelayaran Selat Hormuz, rute penting yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.

Salah satu poin utama dalam MoU antara Amerika Serikat dan Iran adalah menjamin kelancaran arus kapal di Selat Hormuz. Namun situasi di kawasan itu masih belum sepenuhnya stabil setelah Iran menembaki sebuah kapal yang dianggap melintasi jalur yang tidak sesuai, yang kemudian dibalas dengan aksi militer Amerika Serikat pada Jumat malam waktu setempat.

Meski demikian, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) pada Jumat tercatat turun menjadi sekitar USD69 per barel, mendekati level sebelum perang yang berada di kisaran USD67 per barel.

Di sisi lain, harga bensin nasional masih bertahan tinggi. Data AAA menunjukkan rata-rata harga bensin mencapai USD3,90 per galon atau naik hampir satu dolar dibandingkan akhir Februari lalu.

Baca Juga: 3 Alasan Denmark Larang Mengumandangkan Azan, Tidak Ingin Seperti Islamabad

Direktur Global Fuel Retail S&P Global Energy Rob Smith mengatakan harga bahan bakar di tingkat ritel memang cenderung lebih lambat turun dibandingkan kenaikan harga minyak mentah. “Ada ungkapan bahwa harga ritel naik seperti roket, tetapi turun seperti bulu. Operator SPBU sebelumnya juga mengalami tekanan margin sehingga kini mereka berupaya memulihkan keuntungan,” ujarnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!