Selat Hormuz Sempat Lumpuh, Raja-raja Minyak Arab Garap Proyek Pipa Raksasa
Kamis, 02 Juli 2026 - 18:27 WIB
Jalur pipa raksasa yang dibangun sejak tahun 1980-an ini langsung digenjot hingga kapasitas maksimalnya, mencapai 7 juta barel minyak per hari. Langkah penyelamatan darurat Arab Saudi ini langsung ditiru secara agresif oleh negara tetangganya, Uni Emirat Arab (UEA).
Baca Juga: Pasokan Minyak Iran Kembali Banjiri Pasar Asia, Harga Minyak Dunia Anjlok 4%
Sadar posisinya sangat rentan, UEA kini meluncurkan megaproyek kilat untuk membangun pipa baru menuju pelabuhan Fujairah yang terletak tepat di luar Selat Hormuz. Tak tanggung-tanggung, UEA menargetkan proyek ini rampung akhir tahun depan untuk menggandakan kapasitas pipa mereka dari 1,8 juta barel menjadi 3,6 juta barel per hari.
Ketika jalur laut tersebut ditutup, pendapatan negara Irak langsung terjun bebas. Guna menghindari kebangkrutan, Baghdad terpaksa memangkas drastis produksi minyak nasional mereka dari semula di atas 4 juta barel per hari, anjlok parah hingga hampir menyentuh angka 1 juta barel per hari.
Kini, demi bertahan hidup, Irak nekat menghidupkan kembali pipa Kirkuk-Ceyhan menuju Turki untuk mendongkrak kapasitas aliran utara dari 200 ribu barel menjadi 770 ribu barel per hari dalam hitungan bulan. Irak bahkan tengah menjajaki kerja sama pembangunan jaringan pipa baru menembus Suriah dan Yordania untuk langsung menembus pelabuhan Mediterania.
Baca Juga: Pasokan Minyak Iran Kembali Banjiri Pasar Asia, Harga Minyak Dunia Anjlok 4%
Sadar posisinya sangat rentan, UEA kini meluncurkan megaproyek kilat untuk membangun pipa baru menuju pelabuhan Fujairah yang terletak tepat di luar Selat Hormuz. Tak tanggung-tanggung, UEA menargetkan proyek ini rampung akhir tahun depan untuk menggandakan kapasitas pipa mereka dari 1,8 juta barel menjadi 3,6 juta barel per hari.
Tragedi Irak, Produksi Anjlok dari 4 Juta Sisa 1 Juta Barel
Kita melihat betapa fatalnya dampak pemblokiran Selat Hormuz bagi negara yang terlambat mengantisipasi infrastruktur alternatif. Irak adalah contoh korban paling tragis dalam krisis ini. Lebih dari 90% ekspor minyak Irak selama ini bergantung total pada Selat Hormuz.Ketika jalur laut tersebut ditutup, pendapatan negara Irak langsung terjun bebas. Guna menghindari kebangkrutan, Baghdad terpaksa memangkas drastis produksi minyak nasional mereka dari semula di atas 4 juta barel per hari, anjlok parah hingga hampir menyentuh angka 1 juta barel per hari.
Kini, demi bertahan hidup, Irak nekat menghidupkan kembali pipa Kirkuk-Ceyhan menuju Turki untuk mendongkrak kapasitas aliran utara dari 200 ribu barel menjadi 770 ribu barel per hari dalam hitungan bulan. Irak bahkan tengah menjajaki kerja sama pembangunan jaringan pipa baru menembus Suriah dan Yordania untuk langsung menembus pelabuhan Mediterania.
Lihat Juga :