Apa Sih Sebenarnya Logam Tanah Jarang? Sering Disebut Minyak Baru
Kamis, 09 Juli 2026 - 12:36 WIB
Cengkeraman Mutlak China yang Bikin AS Ketakutan
Ketakutan terbesar Amerika Serikat adalah karena China saat ini menguasai 60% produksi global dan memegang kendali mutlak atas 92% proses pemurnian (processing) logam tanah jarang di dunia. Beijing sudah berulang kali menggunakan komoditas ini sebagai "kartu as" untuk menekan rivalnya dalam perang dagang.Berdasarkan laporan Badan Energi Internasional (IEA), permintaan global untuk logam tanah jarang diprediksi akan melonjak dua kali lipat pada tahun 2030.
Guna melepaskan diri dari ketergantungan ini, Pentagon (Departemen Pertahanan AS) bahkan mengambil langkah ekstrem pada Juli 2025 lalu dengan membeli saham besar-besaran di MP Materials (operator tambang logam tanah jarang satu-satunya di AS) melalui kemitraan publik-swasta.
Peluang Cuan: Mengintip Saham Rare Earth Potensial
Bagi para investor, sektor ini menjanjikan keuntungan jangka panjang. Meski analis senior William Blair, Neal Dingmann mengingatkan, bahwa perusahaan AS belum bisa menandingi efisiensi biaya China dalam waktu dekat, aliansi strategis dengan negara-negara Asia Tenggara (termasuk potensi Indonesia di masa depan) akan menjadi kunci percepatan.Jika Anda tertarik berinvestasi di sektor komoditas strategis ini, berikut adalah beberapa saham global yang direkomendasikan para analis untuk dipantau di antaranya USA Rare Earth (USAR) menjadi favorit karena baru saja mengakuisisi LCM (Less Common Metals) asal Inggris dan pabrik magnet raksasa mereka di Oklahoma akan mulai beroperasi akhir tahun ini.
Lalu NeoCorp (NB), American Resources (AREC), serta United States Antimony Corporation (UAMY). Investasi di sektor ini membutuhkan kesabaran, dengan proyeksi imbal hasil nyata minimal dua hingga tiga tahun ke depan.
Indonesia sendiri diketahui memiliki potensi kandungan logam tanah jarang yang sangat besar yang tertanam di sisa pengolahan timah dan bauksit. Apakah Indonesia harus segera membatasi ekspor mentahnya dan meniru strategi China?.
(akr)
Lihat Juga :