Nasib Belang Gurita Bisnis Arab di Tengah Perang: Ada yang Boncos hingga Mendadak Kaya

Minggu, 12 Juli 2026 - 10:15 WIB
Sedangkan bisnis konveksitas atau layanan rumah juga termasuk yang bertahan karena masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah selama konflik. Saham aplikasi pengantar makanan Dubai, Talabat dilaporkan melejit lebih dari 60% hanya dalam waktu tiga bulan!

Sektor Properti dan Perbankan Terpukul Paling Parah

Di sisi lain, sektor yang selama ini menjadi simbol kemewahan Arab, yaitu properti dan perbankan justru dilaporkan kehabisan bensin. Sektor properti di Dubai dan Abu Dhabi mengalami pukulan telak akibat penurunan arus migrasi ekspatriat dan mandeknya sektor pariwisata internasional.

Raksasa real estat seperti Emaar Properties dan Aldar Properties bahkan terpaksa mengambil langkah darurat menunda pembagian dividen demi menjaga likuiditas perusahaan. Dokumen dari Citi Group mencatat bahwa penjualan residensial di Dubai pada kuartal kedua jatuh signifikan di bawah level sebelum konflik.

Sementara itu, profitabilitas perbankan di wilayah Teluk kompak melorot ke zona negatif (single-digit decline). "Penurunan ini dipicu oleh anjloknya pendapatan berbasis biaya (fee income) akibat melemahnya pembiayaan perdagangan (trade finance) serta merosotnya transaksi kartu kredit untuk perjalanan internasional," jelas Elena Sanchez-Cabezudo, Kepala Riset Ekuitas Finansial di EFG Hermes.

Meski demikian, para manajer investasi global seperti FIM Partners optimistis bahwa fundamental emiten Arab secara umum masih sangat solid. Kekayaan cadangan modal (balance sheet) yang masif membuat korporasi-korporasi Timur Tengah ini dinilai memiliki daya tahan tinggi untuk menyerap guncangan perang sebesar apapun.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!