Perang dengan AS Kian Memanas, Iran Ancam Hentikan Semua Ekspor Energi dari Timur Tengah
Kamis, 16 Juli 2026 - 08:03 WIB
Selain itu, serangan AS menghantam markas Brigade Infanteri Mekanis ke-388 Iran di Provinsi Sistan dan Baluchestan. Televisi pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 13 rudal ditembakkan ke kompleks militer tersebut yang menewaskan tujuh personel, termasuk prajurit wajib militer dan tentara aktif, serta melukai sejumlah anggota militer lainnya.
Juru Bicara Pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani mengatakan lebih dari 30 orang tewas dalam beberapa hari terakhir akibat serangan yang terjadi di berbagai wilayah. Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran Hossein Kermanpour menyebut lebih dari 260 orang mengalami luka-luka hanya dalam serangan semalam, jumlah korban terbanyak sejak konflik terbaru antara Iran dan AS kembali meningkat.
Militer Iran menegaskan akan memberikan "respons tegas" atas serangan tersebut. Pada saat yang sama, peringatan serangan rudal kembali berbunyi di Bahrain dan Kuwait setelah Iran meluncurkan serangan ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Yordania juga mengaku berhasil mencegat tiga rudal Iran yang melintas di wilayah udaranya.
Panglima Komando Pusat (CENTCOM) AS Laksamana Brad Cooper mengatakan Iran telah meluncurkan puluhan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah negara Teluk dalam beberapa hari terakhir. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa Washington akan meningkatkan serangan dalam dua hari ke depan, bahkan mengancam menargetkan jembatan dan pembangkit listrik apabila perundingan dengan Teheran tidak kembali dilanjutkan. "Lebih baik Anda membuat kesepakatan, atau Anda tidak akan memiliki apa pun yang tersisa," kata Trump.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, mengecam tindakan Washington dan menegaskan negaranya bukan pihak yang memulai agresi. Menurutnya, justru AS bertindak sebagai agresor dalam konflik yang kembali memanas di kawasan.
Juru Bicara Pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani mengatakan lebih dari 30 orang tewas dalam beberapa hari terakhir akibat serangan yang terjadi di berbagai wilayah. Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran Hossein Kermanpour menyebut lebih dari 260 orang mengalami luka-luka hanya dalam serangan semalam, jumlah korban terbanyak sejak konflik terbaru antara Iran dan AS kembali meningkat.
Militer Iran menegaskan akan memberikan "respons tegas" atas serangan tersebut. Pada saat yang sama, peringatan serangan rudal kembali berbunyi di Bahrain dan Kuwait setelah Iran meluncurkan serangan ke sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Yordania juga mengaku berhasil mencegat tiga rudal Iran yang melintas di wilayah udaranya.
Panglima Komando Pusat (CENTCOM) AS Laksamana Brad Cooper mengatakan Iran telah meluncurkan puluhan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah negara Teluk dalam beberapa hari terakhir. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa Washington akan meningkatkan serangan dalam dua hari ke depan, bahkan mengancam menargetkan jembatan dan pembangkit listrik apabila perundingan dengan Teheran tidak kembali dilanjutkan. "Lebih baik Anda membuat kesepakatan, atau Anda tidak akan memiliki apa pun yang tersisa," kata Trump.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, mengecam tindakan Washington dan menegaskan negaranya bukan pihak yang memulai agresi. Menurutnya, justru AS bertindak sebagai agresor dalam konflik yang kembali memanas di kawasan.
Lihat Juga :