Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
Jum'at, 17 Juli 2026 - 21:49 WIB
Fuad Bawazier menyoroti kontradiksi besar yang terjadi pada struktur ekonomi Indonesia selama beberapa dekade terakhir. Pada masa Orde Baru, pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu konsisten berada di rata-rata 7% selama 30 tahun.
Namun kini untuk menyentuh angka 5% saja ekonomi Indonesia harus megap-mega), padahal sektor pertambangan telah dikeruk habis-habisan hingga membuat hutan gundul.
3 Gol Besar Kebijakan Ekspor Satu Pintu
Sebagai solusi radikal, pemerintah saat ini menerapkan pilot project politik ekspor satu pintu untuk tiga komoditas andalan, yaitu sawit, batubara, dan ferro-alloy. Kebijakan yang mencakup sekitar 24% dari total ekspor resmi Indonesia ini diproyeksikan Fuad akan mencetak 3 gol besar sekaligus bagi masa depan fiskal Indonesia.1. Mengamankan Cadangan Devisa & Menstabilkan Nilai Tukar Rupiah
Selama ini, cadangan devisa Indonesia cenderung tipis karena para eksportir memarkir dolar mereka di luar negeri. Akibatnya, nilai tukar rupiah sangat rapuh dan mudah dipermainkan spekulan.Dengan sistem satu pintu, devisa wajib masuk ke sistem perbankan dalam negeri. Pasokan dolar yang melimpah secara otomatis akan menstabilkan moneter dan mempertebal cadangan devisa nasional.
"Kalau ini sudah gol (ekspor satu pintu), dampaknya besar. Nah buktinya apa? negara seperti Saudi Arabia yang hanya mengandalkan ekspor Aramco untuk minyak bisa buat rial enggak pernah digoyang terhadap dolar dan stabil," terangnya.
2. Mendongkrak Tax Ratio dan Penerimaan Negara
Fuad Bawazier juga memberikan catatan bahwa sistem satu pintu akan menutup rapat celah kecurangan ekspor seperti manipulasi invoice (under-invoicing) dan pengalihan harga (transfer pricing). Selama ini data ekspor Indonesia kerap tidak sinkron dengan data impor negara tujuan karena adanya penyelundupan administratif.Jika celah ini ditutup, penerimaan pajak akan melonjak drastis (di mana intensifikasi dan ekstensifikasi saat ini saja sudah menyumbang ekstra hampir Rp75 triliun). Dengan kas negara yang tebal, pemerintah memiliki ruang fiskal yang besar untuk menyalurkan dana transfer daerah, dana desa, sekaligus membayar utang tanpa perlu menambah beban utang baru.
Lihat Juga :