Tingkatkan Skill SDM Pasca Pandemi

Kamis, 22 Oktober 2020 - 06:01 WIB
Meski akan menyingkirkan 85 juta pegawai, otomasi juga akan menciptakan 97 juta lapangan pekerjaan baru di bidang lain. Divisi yang akan banyak dibutuhkan ialah engineering, cloud computing, dan pengembangan produk. Pekerjaan yang membutuhkan diskusi, komunikasi, dan interaksi juga terbuka bagi manusia.

“Dalam lima tahun ke depan, hampir 50% tenaga kerja membutuhkan skill baru agar dapat terserap di pasar buruh,” ungkap WEF. Saat ini, sebanyak 66% perusahaan siap melaksanakan pelatihan selama setahun. “Di masa depan perusahaan paling kompetitif ialah perusahaan yang mengembangkan skill pegawainya,” tulis WEF.

Pengayaan kemampuan tersebut memang sudah mulai terjadi sejak beberapa terakhir. Menurut WEF, fenomena melambungnya jumlah orang yang bekerja di luar latar belakang pendidikannya meningkat di Amerika Serikat (AS). Sebanyak 50% pekerjaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) dan data saat ini banyak diisi tenaga ahli nonteknik. (Baca juga: Tanda-Tanda Peringatan Serangan Jantung yang Jarang Diperhatikan)

Otomatisasi dinilai akan menjadi kebutuhan utama dan memegang peranan besar dalam menjalankan roda bisnis perusahaan. Studi Fredy dan Osborne juga memprediksi hampir separuh karyawan di AS terancam kehilangan pekerjaan dalam 10 tahun ke depan. Negara berkembang juga akan terkena dampaknya. “Hal ini sangat mencemaskan mengingat tingkat pengangguran sarjana juga masih tinggi,” kata ahli ekonomi dari Bank Dunia, Jieun Choi.

Menurut Choi, sedikitnya 600 juta pekerjaan baru perlu dibangun dalam 10 tahun ke depan. Sebab, China dan India saja akan memiliki sekitar 500 juta calon pekerja muda pada 2030 nanti.

Senada dengan Saadia, Choi mengatakan bahwa teknologi otomasi tidak semuanya akan berdampak buruk terhadap pasar buruh. Pada dasarnya, kemajuan teknologi akan menciptakan lapangan pekerjaan baru yang belum ada sebelumnya, bahkan biasanya jumlahnya lebih besar dibandingkan pekerjaan yang hilang.

“Pada zaman dulu komputer menghapus beberapa pekerjaan, tapi di sisi lain juga membuka pekerjaan baru. Hanya saja skill-nya lain. Perusahaan kini banyak membutuhkan tenaga TI (teknologi informasi),” tambahnya, “peluang seperti itu tidak pernah terbayangkan oleh masyarakat dalam dua atau tiga dekade yang lalu.” (Baca juga: Tokoh KAMI Ahmad Yani Akui Hendak Diangkut Polisi)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!