Pandemi Bikin Angka Kelaparan Naik Dua Kali Lipat, Saatnya Reformasi Sistem Pangan

Kamis, 12 November 2020 - 13:25 WIB
Desa ketiga, adalah Desa Hewa, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur. Di desa ini, petani yang sebelumnya membudidayakan padi ladang, melakukan perubahan dengan mengembangkan sistem padi sawah secara organik. Untuk meningkatkan kapasitas petani, mereka juga menggandeng swasta yang WISH Indonesia dan juga LSM Ayu Tani.

Pihak LSM bersama WISH memberikan dukungan berupa penyuluhan, dan peningkatan kapasitas petani dalam melakukan buidaya padi secara organik. WISH sebagai pihak swasta juga membantu dari sisi penyediaan produk-produk pendukung budidaya padi secara organik. Hasil panen warga, selain disimpan di lumbung, sebagian juga dijual melalui BUMDes yang memproduksi beras organik 'Helero'.

Dalam sesi talkshow di Refoodmation ini juga dihadiri Wakil DIrektur Utara, Gatot Trihargo. Gatot menyampaikan bahwa penting adanya cadangan pangan di desa dalam skema Lumbung. Menurut gatot, ada sekitar 50-60% cadangan pangan nasional tersimpan di masyarakat baik di rumah maupun di lumbung seperti yang ada di desa Pendua. Kondisi ini yang sangat mendukung adanya pemenuhan pangan yang aman selama masa pandemic COVID -19.

Perencana Bappenas, Jarot Indarto, mengatakan, “Indonesia ini banyak sekali keragaman sistem pangan local, data dan informasinya mengenai success story menjadi penting bagi Bappenas untuk bahan penyusunan rencana program sistem pangan”.

Kemudian Jarot juga mengapresiasi KRKP atas beberapa kumpulan success story mengenai sistem pangan local yang diampaikan pada kegiatan refoodmation.

Said Abdullah, Koordinator Nasional KRKP, di dalam laporan langsungnya di Kasepuhan Cibarani juga menyampaikan “sistem pangan local, seperti yang ada di Cibarani, desa Pendua dan Desa Hewa bisa terhubung dan menjadi bagian dari kebijakan sistem pangan nasional”
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!