Dukung Pemulihan Suku Bunga Dipangkas
Jum'at, 20 November 2020 - 06:03 WIB
BI mencatat terjadi net inflow sebesar USD3,68 miliar hingga 16 Oktober 2020 dan cadangan devisa USD133,7 miliar pada akhir Oktober 2020. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. "Inflasi akhir tahun 2020 diperkirakan lebih rendah dari batas bawah sasaran inflasi. Pada 2021 inflasi akan kembali ke sasarannya 3% plus minus 1%," ungkap Perry.
Dengan diturunkannya suku bunga acuan tersebut, Perry meminta perbankan segera menurunkan suku bunga kredit. "BI telah melakukan quantative easing sangat besar. Karena itu, melalui forum ini kami terus dan tidak segan-segannya mengharapkan perbankan menurunkan suku bunga kredit untuk mendorong ekonomi," ujarnya.
Menurut Perry, kondisi dunia usaha kini telah membaik. Hal ini dilihatnya dari kinerja ekspor yang mulai meningkat sehingga sudah saatnya perbankan mulai memberikan kredit kembali ke dunia usaha. "Sudah saatnya ini penyaluran kredit terus didorong, sudah saatnya membangun optimisme. Sudah saatnya kita untuk meningkatkan ekonomi," imbuhnya.
Perry mengungkapkan, belum turunnya suku bunga kredit karena perbankan masih meningkatkan pencadangan terkait dengan risiko kredit yang juga meningkat di tengah pandemi. "Risiko kredit itu meningkat dan itu tentu saja sejumlah bank meningkatkan kebutuhan untuk pencadangan risiko kredit. Ini faktor-faktor penyebab suku bunga kredit belum turun," urainya. (Baca juga: Tips Agar Anak Betah di Rumah Selama Pandemi)
Peneliti Indef Nailul Huda menilai, langkah BI dalam menurunkan suku bunga bisa dibilang berani di tengah kondisi pandemi. Apalagi di tengah kemungkinan besar ekonomi AS yang membaik usai Joe Biden terpilih menjadi presiden Amerika Serikat (AS). Namun, Huda meyakini penurunan suku bunga itu akan membawa efek positif ke sektor riil dan bisa menggenjot permintaan kredit yang saat ini masih lesu. "Kita harap perbankan dapat merespons dengan menurunkan suku bunga kreditnya serta bisa meningkatkan konsumsi masyarakat," desaknya.
Dengan diturunkannya suku bunga acuan tersebut, Perry meminta perbankan segera menurunkan suku bunga kredit. "BI telah melakukan quantative easing sangat besar. Karena itu, melalui forum ini kami terus dan tidak segan-segannya mengharapkan perbankan menurunkan suku bunga kredit untuk mendorong ekonomi," ujarnya.
Menurut Perry, kondisi dunia usaha kini telah membaik. Hal ini dilihatnya dari kinerja ekspor yang mulai meningkat sehingga sudah saatnya perbankan mulai memberikan kredit kembali ke dunia usaha. "Sudah saatnya ini penyaluran kredit terus didorong, sudah saatnya membangun optimisme. Sudah saatnya kita untuk meningkatkan ekonomi," imbuhnya.
Perry mengungkapkan, belum turunnya suku bunga kredit karena perbankan masih meningkatkan pencadangan terkait dengan risiko kredit yang juga meningkat di tengah pandemi. "Risiko kredit itu meningkat dan itu tentu saja sejumlah bank meningkatkan kebutuhan untuk pencadangan risiko kredit. Ini faktor-faktor penyebab suku bunga kredit belum turun," urainya. (Baca juga: Tips Agar Anak Betah di Rumah Selama Pandemi)
Peneliti Indef Nailul Huda menilai, langkah BI dalam menurunkan suku bunga bisa dibilang berani di tengah kondisi pandemi. Apalagi di tengah kemungkinan besar ekonomi AS yang membaik usai Joe Biden terpilih menjadi presiden Amerika Serikat (AS). Namun, Huda meyakini penurunan suku bunga itu akan membawa efek positif ke sektor riil dan bisa menggenjot permintaan kredit yang saat ini masih lesu. "Kita harap perbankan dapat merespons dengan menurunkan suku bunga kreditnya serta bisa meningkatkan konsumsi masyarakat," desaknya.
Lihat Juga :