Menakar Peluang Rebound Saham BNI

Minggu, 12 April 2020 - 22:28 WIB
Kemudian, saham BNI kembali "pulih" dan kembali bergerak di kisaran Rp2.000/saham pada Maret 2010, dan bangkit ke level Rp3.081/saham pada Agustus. Di penghujung tahun 2010 pun BNI mencapai level tertinggi sejak krisis menghantam yakni Rp4.700/saham. Artinya sejak menyentuh titik terendah, saham BNI bisa meningkat hampir 12 kali lipat hanya dalam kurun waktu sekitar 2 tahun.

Sebagai ilustrasi sederhana, bila investor berinvestasi senilai Rp100 juta di 2008 di saham BNI, maka kekayaannya akan berlipat hingga lebih dari Rp1,1 miliar hanya dalam waktu 2 tahun.

Analis menilai kondisi saat ini tidak jauh berbeda dengan 2008-2009. IHSG tertekan dan menyentuh titik terendahnya sejak 2013, pada penutupan perdagangan Senin (23/3) merosot ke level 3.989. Sejak awal tahun (year to date) IHSG pun tercatat sudah turun 26,56%.

Meski demikian, penurunan terhadap IHSG tidak berlangsung lama, segera setelah mencatat level terendah IHSG pun segera bangkit dan kini, Rabu (8/4) kembali di level 4.626. Begitu juga dengan saham BNI yang sempat menyentuh Rp3.390/saham saat IHSG meninggalkan 4.000. Namun tidak butuh waktu lama untuk BNI perlahan tapi pasti menanjak naik, dan ditutup Rp 4.010/saham pada Rabu (8/4) lalu. Kenaikan lebih dari 20% hanya dalam hitungan hari.

Pengamat pasar modal Yazid Muammar mengatakan, potensi rebound saham BNI termasuk paling cepat dibandingkan bank besar lainnya. Hal ini terlihat dari valuasi betanya yang berada di 1,5 kali. Selain itu, penurunan saham BNI juga masih belum 50% hingga saat ini, sementara pada 2008 penurunan sahamnya pernah lebih dari 75%.

Dia menilai saat ini pun valuasi BNI dengan nilai price to book value (PBV) 0,6 kali sudah termasuk murah dibandingkan bank besar lainnya, apalagi jika melihat rata-rata PBV BNI dalam lima tahun terakhir ada di posisi 1,45%.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!