Antisipasi Pandemi di Masa Depan, Singapura Investasi Rp263,8 Triliun
Sabtu, 12 Desember 2020 - 06:45 WIB
“Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat dan memerlukan perhatian sehingga dapat membantu pertumbuhan ekonomi pasca-wabah Covid-19. Kami juga perlu fokus memerhatikan perkembangan kebutuhan dan kepentingan masyarakat yang semakin meluas,” kata Heng. “Kesehatan dan potensi masyarakat juga akan diperhatikan.”
Sebagai negara dengan angka kelahiran yang rendah dan penuaan penduduk, Singapura berupaya terus mendorong masyarakat agar memiliki lebih banyak anak. Heng mengatakan pemerintah Singapura siap menggelontorkan dana untuk mendukung penelitian terkait isu tersebut, termasuk penelitian lain yang masih berkaitan.
Sebagai contoh, lembaga penelitian angka kelahiran terbesar di Singapura Growing Up in Singapore Towards Healthy Outcomes (GUSTO), kini akan memperluas topik studi untuk memahami permasalahan ini secara lebih luas. Saat ini, GUSTO tidak hanya akan meneliti angka kehamilan, tapi juga perkembangan ibu dan bayi yang terkadang tidak diperhatikan. (Baca juga: Komisi X Dorong Munculnya Penggerak Literasi Desa)
RIE 2025 tidak hanya didukung Menkeu, tapi juga Menteri Industri dan Perdagangan Singapura Chan Chun Sing, Menteri Lingkungan dan Keberlanjutan Grace Fy, Menteri Pendidikan Lawrence Wong, dan Menteri Informasi dan Komunikasi S Israwan. Menurut Wong, beberapa sektor perlu menyingkirkan ego sektoral dan mulai berkolaborasi.
“Institut Pendidikan Nasional memerlukan Science of Learning in Education Centre (SoLEC) baru yang mengintegrasikan penelitian di berbagai bidang, baik perkembangan anak, ilmu pengetahuan instruksi pembelajaran, dan ilmu olahraga,” kata Wong. “Hal ini akan menjembatani setiap tepi penelitian yang dilakukan di perguruan tingggi.”
Pemerintah Singapura juga siap mendanai penelitian yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan orang lanjut usia (lansia). Di samping itu, pemerintah Singapura akan membentuk National R&D Programme for Epidemic Preparedness and Response (PREPARE) untuk mempersiapkan diri menghadapi pandemi di masa yang akan datang. (Baca juga: Biaya Kesehatan di Indonesia Diperkirakan Naik di 2021)
Sebagai negara dengan angka kelahiran yang rendah dan penuaan penduduk, Singapura berupaya terus mendorong masyarakat agar memiliki lebih banyak anak. Heng mengatakan pemerintah Singapura siap menggelontorkan dana untuk mendukung penelitian terkait isu tersebut, termasuk penelitian lain yang masih berkaitan.
Sebagai contoh, lembaga penelitian angka kelahiran terbesar di Singapura Growing Up in Singapore Towards Healthy Outcomes (GUSTO), kini akan memperluas topik studi untuk memahami permasalahan ini secara lebih luas. Saat ini, GUSTO tidak hanya akan meneliti angka kehamilan, tapi juga perkembangan ibu dan bayi yang terkadang tidak diperhatikan. (Baca juga: Komisi X Dorong Munculnya Penggerak Literasi Desa)
RIE 2025 tidak hanya didukung Menkeu, tapi juga Menteri Industri dan Perdagangan Singapura Chan Chun Sing, Menteri Lingkungan dan Keberlanjutan Grace Fy, Menteri Pendidikan Lawrence Wong, dan Menteri Informasi dan Komunikasi S Israwan. Menurut Wong, beberapa sektor perlu menyingkirkan ego sektoral dan mulai berkolaborasi.
“Institut Pendidikan Nasional memerlukan Science of Learning in Education Centre (SoLEC) baru yang mengintegrasikan penelitian di berbagai bidang, baik perkembangan anak, ilmu pengetahuan instruksi pembelajaran, dan ilmu olahraga,” kata Wong. “Hal ini akan menjembatani setiap tepi penelitian yang dilakukan di perguruan tingggi.”
Pemerintah Singapura juga siap mendanai penelitian yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan orang lanjut usia (lansia). Di samping itu, pemerintah Singapura akan membentuk National R&D Programme for Epidemic Preparedness and Response (PREPARE) untuk mempersiapkan diri menghadapi pandemi di masa yang akan datang. (Baca juga: Biaya Kesehatan di Indonesia Diperkirakan Naik di 2021)
Lihat Juga :