Menko Airlangga Akui Cari Sumber Pembiayaan Proyek Energi Fosil Makin Susah

Senin, 26 April 2021 - 13:11 WIB
"Produk industri pengolahan dilihat dari hasil listriknya, sumber energi listrik dari fosil jadi tidak lebih menjanjikan daripada EBT. Hal ini tentu berdampak pada ekspor hasil produk industri pengolahan," imbuhnya.

Baca Juga: Indonesia Belum Beranjak dari Energi Fosil

Airlangga menambahkan, Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% dari business as usual dan 415 dari business as usual dengan bantuan internasional.

"Melalui penerbitan UU No.16/2016 tentang pengesahan Paris Agreement, dimana pemanfaatan EBT dan konservasi energi akan berkontribusi signifikan terhadap penurunan emisi rumah kaca dan meningkatkan akses terhadap energi bersih dan terjangkau," tandasnya.

Sebagai informasi pemanfaatan potensi energi terbarukan (EBT) di Tanah Air masih belum maksimal. Tercatat hingga akhir 2020, total kapasitas listrik berbasis EBT mencapai 10,5 GW, dengan kapasitas terbesar dari tenaga air sebesar 6,1 GW dan panas bumi 2,1 GW.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!