Proses Alih Kelola Berjalan Lancar, PHR Harus All Out Jaga Produksi Blok Rokan
Selasa, 13 Juli 2021 - 14:03 WIB
Ke depan, lanjut dia, tantangan PHR adalah mempertahankan volume produksi. Apalagi secara umum blok migas habis masa kontrak sudah mengalami penurunan produksi yang signifikan. "Pekerjaan rumah umumnya hanya untuk mempertahankan produksi. Jika bisa menaikkan produksi, itu bonus," ujarnya.
Saat mulai alih kelola, kata dia, internal PHR harus memahami bahwa Blok Rokan adalah salah satu kontributor utama dalam produksi minyak nasional hingga 25%. Di masa silam, Blok Rokan bahkan memiliki kontribusi terbesar bagi produksi minyak Indonesia, lebih dari 400.000-an barel per hari.
"Seiring usia lapangan yang mature dan adanya penurunan alamiah, produksi Blok Rokan kini turun di level 160.000-an barel per hari. Secara otomatis kinerja Blok Rokan akan menjadi perhatian publik dan para stakeholder pengambil kebijakan," tandasnya.
Karena itu, tegas dia, manajemen PHR harus siap dalam banyak hal. Tidak hanya masalah teknis bisnis, tetapi juga aspek-aspek lain yang kemungkinan akan menyertainya. "Salah satunya adalah diperbandingkan dengan lapangan alih kelola lainnya yang dilakukan Pertamina," tuturnya.
Terkait dengan itu, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan Jaffee A Suardin menyampaikan bahwa hingga saat ini PHR telah menyiapkan segala kebutuhan agar proses alih kelola ini berjalan lancar dan tanpa kendala. Dia menegaskan, PHR menerapkan upaya maksimal agar dalam proses transisi ini semua berjalan lancar dan yang terpenting bisa langsung tune in dengan tim eksisting.
"Untuk proses mirroring seluruh kontrak eksisting sudah mencapai 100% dari 291 kontrak. Selain mirroring, juga dilakukan pengadaan baru dan kontrak melalui program Local Business Development (LBD) yang saat ini masih berproses dengan lancar. Proses alih pekerja, sebagai aset terpenting juga berjalan baik, tercatat 98,7% telah melengkapi dan mengembalikan aplikasi termasuk perjanjian kerja sesuai waktu yang ditentukan," paparnya.
Saat mulai alih kelola, kata dia, internal PHR harus memahami bahwa Blok Rokan adalah salah satu kontributor utama dalam produksi minyak nasional hingga 25%. Di masa silam, Blok Rokan bahkan memiliki kontribusi terbesar bagi produksi minyak Indonesia, lebih dari 400.000-an barel per hari.
"Seiring usia lapangan yang mature dan adanya penurunan alamiah, produksi Blok Rokan kini turun di level 160.000-an barel per hari. Secara otomatis kinerja Blok Rokan akan menjadi perhatian publik dan para stakeholder pengambil kebijakan," tandasnya.
Karena itu, tegas dia, manajemen PHR harus siap dalam banyak hal. Tidak hanya masalah teknis bisnis, tetapi juga aspek-aspek lain yang kemungkinan akan menyertainya. "Salah satunya adalah diperbandingkan dengan lapangan alih kelola lainnya yang dilakukan Pertamina," tuturnya.
Terkait dengan itu, Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan Jaffee A Suardin menyampaikan bahwa hingga saat ini PHR telah menyiapkan segala kebutuhan agar proses alih kelola ini berjalan lancar dan tanpa kendala. Dia menegaskan, PHR menerapkan upaya maksimal agar dalam proses transisi ini semua berjalan lancar dan yang terpenting bisa langsung tune in dengan tim eksisting.
"Untuk proses mirroring seluruh kontrak eksisting sudah mencapai 100% dari 291 kontrak. Selain mirroring, juga dilakukan pengadaan baru dan kontrak melalui program Local Business Development (LBD) yang saat ini masih berproses dengan lancar. Proses alih pekerja, sebagai aset terpenting juga berjalan baik, tercatat 98,7% telah melengkapi dan mengembalikan aplikasi termasuk perjanjian kerja sesuai waktu yang ditentukan," paparnya.
Lihat Juga :