Siap Listing, GTS Internasional Incar Dana IPO Rp429 Miliar
Kamis, 19 Agustus 2021 - 15:36 WIB
Dari dana hasil penjualan saham tersebut sekitar 64% atau setara dengan USD19,2 juta akan digunakan untuk pinjaman kepada PT Anoa Sulawesi Regas (Anoa), dengan perkiraan suku bunga 7% per tahun dengan jangka waktu pinjaman 8 tahun serta grace periode 2 tahun.
Pinjaman tersebut akan digunakan Anoa untuk membangun permanen Floating Storage regacification Unit (FRSU) di Sulawesi Utara, yang direncanakan akan dimulai pada kuartal IV/2021. Jika dana sudah dibayarkan kembali kepada GTSI, maka perseroan akan menggunakan dana tersebut untuk pengembangan usaha di masa depan termasuk namun tidak terbatas untuk modal kerja dan belanja modal.
Selain itu, sekitar 20% atau USD6 juta akan digunakan untuk modal kerja GTSI seperti operasional perseroan yang meliputi antara lain cadangan docking, membangun war room sistem akuntansi dan keuangan, shipping monitoring online system.
“Sisanya sekitar 16% atau USD4,8 juta untuk penyertaan modal kepada Anoa. Dengan penyertaan dana tersebut diharapkan akan memperkuat struktur permodalan dan modal kerja di Anoa, sehingga mampu memberikan kontribusi secara konsolidasi dan stabilitas pendapatan perseroan selama sekitar 15 tahun ke depan,” paparnya.
Menurutnya, peranan komoditi gas bumi (LNG) masih dominan sebagai penghasil devisa negara dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian Indonesia. Indonesia sempat menjadi negara pengekspor terbesar dunia untuk komoditi gas alam cair.
Meskipun saat ini Indonesia masih menjadi pengekspor LNG, namun pasokan gas bumi untuk ekspor semakin menurun seiring dengan meningkatnya kebutuhan domestik dari tahun ke tahun. Karena pemanfaatan gas bumi domestik naik rata-rata 7,8% sejak tahun 2003 hingga tahun 2017. Sehingga dari total produksi gas bumi di tahun 2017, pemanfaatan gas bumi sebanyak 58,89% diserap untuk kebutuhan domestik dan sisanya 41,11% untuk ekspor.
Pinjaman tersebut akan digunakan Anoa untuk membangun permanen Floating Storage regacification Unit (FRSU) di Sulawesi Utara, yang direncanakan akan dimulai pada kuartal IV/2021. Jika dana sudah dibayarkan kembali kepada GTSI, maka perseroan akan menggunakan dana tersebut untuk pengembangan usaha di masa depan termasuk namun tidak terbatas untuk modal kerja dan belanja modal.
Selain itu, sekitar 20% atau USD6 juta akan digunakan untuk modal kerja GTSI seperti operasional perseroan yang meliputi antara lain cadangan docking, membangun war room sistem akuntansi dan keuangan, shipping monitoring online system.
“Sisanya sekitar 16% atau USD4,8 juta untuk penyertaan modal kepada Anoa. Dengan penyertaan dana tersebut diharapkan akan memperkuat struktur permodalan dan modal kerja di Anoa, sehingga mampu memberikan kontribusi secara konsolidasi dan stabilitas pendapatan perseroan selama sekitar 15 tahun ke depan,” paparnya.
Menurutnya, peranan komoditi gas bumi (LNG) masih dominan sebagai penghasil devisa negara dan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian Indonesia. Indonesia sempat menjadi negara pengekspor terbesar dunia untuk komoditi gas alam cair.
Meskipun saat ini Indonesia masih menjadi pengekspor LNG, namun pasokan gas bumi untuk ekspor semakin menurun seiring dengan meningkatnya kebutuhan domestik dari tahun ke tahun. Karena pemanfaatan gas bumi domestik naik rata-rata 7,8% sejak tahun 2003 hingga tahun 2017. Sehingga dari total produksi gas bumi di tahun 2017, pemanfaatan gas bumi sebanyak 58,89% diserap untuk kebutuhan domestik dan sisanya 41,11% untuk ekspor.
Lihat Juga :