Dikuasai Taliban, Ekonomi Afghanistan Diramal Makin Suram

Selasa, 24 Agustus 2021 - 17:26 WIB
Asian Development Bank (ADB) melaporkan sekitar dua pertiga penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, dengan pendapatan kurang dari USD1,90 per hari atau naik dari 55% pada 2017. Pertanian adalah sumber pendapatan utama bagi sebagian besar warga Afghanistan dan ekspor utama negara tersebut.

Menurut Organisasi Perdagangan Dunia, Afghanistan mengekspor barang senilai USD783 juta pada 2020, penurunan hampir 10% dibandingkan tahun 2019. Buah-buahan kering, kacang-kacangan, dan tanaman obat merupakan sebagian besar ekspor, terutama ke India dan Pakistan. Tetapi impor minyak, makanan, dan mesin yang besar berarti Afghanistan mengalami defisit perdagangan yang amat besar.

Meskipun memiliki salah satu tingkat utang terendah di dunia relatif terhadap PDB, Afghanistan dianggap berisiko tinggi gagal bayar bahkan sebelum gejolak saat ini, mengingat ketergantungannya yang tinggi pada hibah dan pinjaman lunak yang menyumbang sekitar sepertiga dari PDB.

Selain kemelut politik dan keamanan di dalam negeri, pandemi COVID-19 membuat keuangan negara tersebut semakin terpuruk. Untuk pemulihan ekonomi Afghanistan dari pandemi, IMF pada bulan November menggelontorkan USD370 juta melalui fasilitas kredit yang diperpanjang, ditindaklanjuti dengan janji donor internasional sebesar USD12 miliar dalam bentuk bantuan sipil.

IMF mengatakan pada hari Rabu bahwa Afghanistan tidak akan dapat mengakses sumber daya IMF, termasuk alokasi baru cadangan Hak Penarikan Khusus, karena ketidakpastian atas pengakuan pemerintah Taliban. Selain IMF dan pemberi pinjaman multilateral lainnya, Arab Saudi dan Kuwait termasuk di antara kreditur bilateral.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!