Sri Lanka Umumkan Darurat Ekonomi: Harga Pangan Meroket Saat Nilai Mata Uang Jatuh

Kamis, 02 September 2021 - 14:59 WIB
Departemen Sensus dan Statistik Negara itu mengatakan kenaikan nilai tukar mata uang asing adalah salah satu alasan di balik kenaikan harga banyak komoditas penting selama setahun terakhir.

Inflasi secara Month-on-month (Mom) telah meningkat menjadi 6% pada bulan Agustus, terutama karena harga pangan yang tinggi. Sri Lanka yang merupakan importir makanan dan komoditas lainnya, menyaksikan lonjakan kasus virus corona dan kematian menjadi pukulan telak bagi sektor pariwisata, salah satu penghasil utama mata uang asing negara Asia Selatan itu.

Baca Juga: Tembus Pasar Internasional, Peruri Ekspor Paspor ke Sri Lanka

Efek akibat dari kemerosotan jumlah wisatawan, telah membuat ekonomi Sri Lanka menyusut 3,6% tahun lalu. Pada Bulan Maret tahun lalu, pemerintah memberlakukan larangan impor kendaraan dan barang-barang lainnya karena mencoba membendung arus keluar mata uang asing.

Awal bulan ini, Sri Lanka menjadi negara pertama di kawasan yang menaikkan suku bunga acuan dalam upaya untuk menopang mata uangnya dan membantu meringankan tekanan inflasi dari tingginya biaya impor.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!