Studi: Negara Berkembang Kena Jebakan Utang Rp5.390 Triliun ke China
Jum'at, 01 Oktober 2021 - 10:07 WIB
Studi AidData mengklaim bahwa Belt and Road Initiative China menyebabkan lusinan negara berpenghasilan rendah hingga menengah terjerat utang miliaran dolar AS. Foto/Ilustrasi
JAKARTA - Sebuah studi baru mengklaim bahwa Belt and Road Initiative (Inisiatif Sabuk dan Jalan) yang diluncurkan China telah menyebabkan lusinan negara berpenghasilan rendah hingga menengah mengakumulasi "utang tersembunyi" dengan nilai sebesar USD385 miliar (sekitar Rp5.390 triliun) ke Beijing.
Dilansir CNBC, Jumat (1/10/2021), studi tersebut dilakukan AidData, laboratorium penelitian pengembangan internasional yang berbasis di Virginia's College of William & Mary, yang menganalisis 13.427 proyek pembangunan China senilai total USD843 miliar (sekitar Rp11.802 triliun) di 165 negara, selama periode 18 tahun hingga akhir 2017.
Baca Juga: 'Paman Sam' Punya Utang Rp400.000 Triliun, Bisa Bayar Nggak ya?
Selama dua dekade terakhir, China telah mencetak sejumlah rekor pembiayaan kepada negara-negara berkembang untuk mendukung proyek-proyek sektor publik dan swasta. Inisiatif Sabuk dan Jalan adalah inisiatif kebijakan luar negeri utama Presiden Xi Jinping yang diluncurkan pada tahun 2013 untuk berinvestasi di hampir 70 negara dan organisasi internasional. Inisiatif itu telah mendorong China ke dominasi global dalam hal keuangan pembangunan internasional.
Amerika Serikat (AS) disebut-sebut berencana untuk mengembangkan skema serupa di Amerika Selatan. Sedangkan Uni Eropa (UE) mengumumkan pada bulan September lalu bahwa mereka meluncurkan program "Global Gateway" di seluruh dunia. Langkah itu menunjukkan bahwa keduanya berupaya untuk menantang pengaruh keuangan dan geopolitik besar-besaran China di negara-negara berkembang.
Dilansir CNBC, Jumat (1/10/2021), studi tersebut dilakukan AidData, laboratorium penelitian pengembangan internasional yang berbasis di Virginia's College of William & Mary, yang menganalisis 13.427 proyek pembangunan China senilai total USD843 miliar (sekitar Rp11.802 triliun) di 165 negara, selama periode 18 tahun hingga akhir 2017.
Baca Juga: 'Paman Sam' Punya Utang Rp400.000 Triliun, Bisa Bayar Nggak ya?
Selama dua dekade terakhir, China telah mencetak sejumlah rekor pembiayaan kepada negara-negara berkembang untuk mendukung proyek-proyek sektor publik dan swasta. Inisiatif Sabuk dan Jalan adalah inisiatif kebijakan luar negeri utama Presiden Xi Jinping yang diluncurkan pada tahun 2013 untuk berinvestasi di hampir 70 negara dan organisasi internasional. Inisiatif itu telah mendorong China ke dominasi global dalam hal keuangan pembangunan internasional.
Amerika Serikat (AS) disebut-sebut berencana untuk mengembangkan skema serupa di Amerika Selatan. Sedangkan Uni Eropa (UE) mengumumkan pada bulan September lalu bahwa mereka meluncurkan program "Global Gateway" di seluruh dunia. Langkah itu menunjukkan bahwa keduanya berupaya untuk menantang pengaruh keuangan dan geopolitik besar-besaran China di negara-negara berkembang.
Lihat Juga :