PGE Siap Tambah Kapasitas Pembangkit Jadi 1.500 MW di 2030
Rabu, 06 Oktober 2021 - 14:58 WIB
Dalam diskusi tersebut, Direktur Utama PT Medco Power Indonesia Eka Satria Djalins menyebutkan bahwa potensi panas bumi yang dimiliki Indonesia bisa menjadi tulang punggung penyediaan energi nasional di masa depan. Namun, kata dia, meski potensi panas bumi Indonesia sangat besar, realisasi pengembangannya berupa Wilayah Kerja Panas Bumi yang sudah berproduksi masih sedikit. "Untuk itu, semua stakeholder harus terlibat untuk menjawab dan menyelesaikan isu-isu yang ada dalam pengembangan panas bumi di Indonesia," tandasnya.
Guna mendorong pengembangan energi panas bumi, menurutnya ada 3 hal yang harus disiapkan, yakni kebijakan yang mendorong pertumbuhan perkembangan energi. Kemudian, teknologi yang tepat guna, efisien, dan bisa menghasilkan energi yang efisien. "Ketiga, kita harus melihat geothermal tidak hanya dari sisi produksi, namun juga beyond electricity," tuturnya.
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Riki F Ibrahim menambahkan, pengembangan energi panas bumi nasional harus dimulai saat ini untuk mencapai visi Indoneisa 2045. "Kalau tidak sekarang dilakukan, akan terlambat. Ini tidak mudah, sama beratnya dengan pandemi Covid-19. Isu climate change juga tantangannya," kata dia.
Riki mengapresiasi pemerintah yang telah banyak memberikan insentif guna mengurangi ketidakpastian di bisnis dari panas bumi. Di bagian lain, jelas dia, pengembangan panas bumi yang relatif mahal juga membutuhkan pengembang yang serius dan memiliki komitmen kuat.
Baca Juga: Kekuatan Militer Indonesia di Mata Dunia: Jumlah Personel hingga Alutsista yang Dimiliki
Guna mendorong pengembangan energi panas bumi, menurutnya ada 3 hal yang harus disiapkan, yakni kebijakan yang mendorong pertumbuhan perkembangan energi. Kemudian, teknologi yang tepat guna, efisien, dan bisa menghasilkan energi yang efisien. "Ketiga, kita harus melihat geothermal tidak hanya dari sisi produksi, namun juga beyond electricity," tuturnya.
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Riki F Ibrahim menambahkan, pengembangan energi panas bumi nasional harus dimulai saat ini untuk mencapai visi Indoneisa 2045. "Kalau tidak sekarang dilakukan, akan terlambat. Ini tidak mudah, sama beratnya dengan pandemi Covid-19. Isu climate change juga tantangannya," kata dia.
Riki mengapresiasi pemerintah yang telah banyak memberikan insentif guna mengurangi ketidakpastian di bisnis dari panas bumi. Di bagian lain, jelas dia, pengembangan panas bumi yang relatif mahal juga membutuhkan pengembang yang serius dan memiliki komitmen kuat.
Baca Juga: Kekuatan Militer Indonesia di Mata Dunia: Jumlah Personel hingga Alutsista yang Dimiliki
Lihat Juga :