Menkeu Waspadai Inflasi yang Dipicu Kenaikan Harga Produsen

Rabu, 17 November 2021 - 23:48 WIB
Dia menyebutkan bahwa untuk pasar keuangan, yield surat berharga sudah mengalami perbaikan dengan spread yang menurun dari US Treasury yang tadinya pada awal bulan Juli 2021 spreadnya 512 bps sekarang menurun menjadi 449 bps.

"Rupiah dan indeks harga saham juga mengalami perbaikan, namun kita juga paham bahwa ada tantangan yang harus kita waspadai, yang pertama adalah kecenderungan inflasi atau kenaikan harga-harga," ungkapnya.

Baca juga: Inflasi Pekan Kedua November 2021, Dikerek Cabe-cabean hingga Telur Ayam

Dia menuturkan, dilihat di beberapa negara seperti Eropa, Amerika Serikat (AS), China, dan beberapa emerging market seperti Meksiko dan Korea, terjadi kenaikan dari harga produsen. Harga produsen ini bisa menyebabkan kenaikan harga di tingkat konsumen, yang kemudian diukur menjadi inflasi.

"Inilah yang kemudian kita akan waspadai. Untuk Indonesia kita lihat harga di tingkat produsen juga mengalami kenaikan 7,3%, di Eropa bahkan kenaikannya mencapai 16,3%, China 13,5%, AS 8,6%, Korea 7,5%. Kenaikan harga produsen ini harus kita waspadai agar tidak mendorong inflasi pada tingkat konsumen," tandasnya.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!