Menyiasati Pemakaian Listrik di Rumah Agar Lebih Dihemat
Rabu, 10 Juni 2020 - 14:09 WIB
Produk watt tinggi umumnya bersifat memanaskan atau mendinginkan. Misalnya, kompor listrik yang bersifat memanaskan bisa mengonsumsi daya 200 hingga 2.000 watt. Sama halnya dengan oven microwave yang mengonsumsi daya 600 watt sampai 1.500 watt, atau teko air listrik yang meski kecil, bisa menghabiskan daya 350 watt sampai 600 watt. (Baca: Menata Hunian saat Penerapan Aturan di Rumah Saja)
Sedangkan produk dengan watt rendah umumnya bersifat menggerakkan atau mendistribusikan energy. Misalnya, lampu bohlam LED yang hanya mengonsumsi daya 4 sampai 50 watt, atau 80% lebih sedikit dari lampu pijar. Bahkan ada pula produk yang karena terlalu kecil konsumsi listriknya, bisa hanya menggunakan tenaga baterai, seperti pencukur kumis, ponsel, atau tablet yang konsumsi listriknya kurang dari 50 watt.
“Selain kinerja lebih cepat, produk berteknologi tinggi biasanya ditambahkan teknologi lain, sehingga harga otomatis lebih mahal. Produk ini memberikan total solution pada konsumen,” ungkap Ren.
Umumnya kita memang harus mengeluarkan kocek lebih untuk membeli peralatan elektronik terkini, karena tidak hanya membeli produk, kita juga membeli gaya hidup. Misalnya, gaya hidup sehat bisa didapatkan dari produk air fryer, dimana kita bisa menggoreng tanpa minyak yang tentunya mengurangi kadar kolesterol pada makanan. Selain harganya yang mahal, produk ini juga memakan daya listrik sampai 1.500 watt.
Tidak hanya sehat, beberapa produk lainnya juga menawarkan gaya hidup praktis, dengan konsekuensi konsumsi energi yang tidak kalah tinggi. Misalnya, strika uap yang bisa mengkonsumsi daya listrik hingga 1.000 watt, namun membantu melicinkan pakaian dengan mudah dan cepat. (Baca juga: Milenial Membuuh Perpustakaan)
Produk semacam ini juga umumnya memiliki desain modern yang bisa menjadi bagian dari elemen estetika interior rumah, misalnya kompor induksi yang penampakannya lebih ramping dan simpel dari kompor gas.
Sedangkan produk dengan watt rendah umumnya bersifat menggerakkan atau mendistribusikan energy. Misalnya, lampu bohlam LED yang hanya mengonsumsi daya 4 sampai 50 watt, atau 80% lebih sedikit dari lampu pijar. Bahkan ada pula produk yang karena terlalu kecil konsumsi listriknya, bisa hanya menggunakan tenaga baterai, seperti pencukur kumis, ponsel, atau tablet yang konsumsi listriknya kurang dari 50 watt.
“Selain kinerja lebih cepat, produk berteknologi tinggi biasanya ditambahkan teknologi lain, sehingga harga otomatis lebih mahal. Produk ini memberikan total solution pada konsumen,” ungkap Ren.
Umumnya kita memang harus mengeluarkan kocek lebih untuk membeli peralatan elektronik terkini, karena tidak hanya membeli produk, kita juga membeli gaya hidup. Misalnya, gaya hidup sehat bisa didapatkan dari produk air fryer, dimana kita bisa menggoreng tanpa minyak yang tentunya mengurangi kadar kolesterol pada makanan. Selain harganya yang mahal, produk ini juga memakan daya listrik sampai 1.500 watt.
Tidak hanya sehat, beberapa produk lainnya juga menawarkan gaya hidup praktis, dengan konsekuensi konsumsi energi yang tidak kalah tinggi. Misalnya, strika uap yang bisa mengkonsumsi daya listrik hingga 1.000 watt, namun membantu melicinkan pakaian dengan mudah dan cepat. (Baca juga: Milenial Membuuh Perpustakaan)
Produk semacam ini juga umumnya memiliki desain modern yang bisa menjadi bagian dari elemen estetika interior rumah, misalnya kompor induksi yang penampakannya lebih ramping dan simpel dari kompor gas.
Lihat Juga :