Maknyus! Ikan Nila Danau Toba Sangat Digemari Dunia
Sabtu, 05 Februari 2022 - 16:00 WIB
“Kontribusi nilai ekspor tilapia (nila) dari kelima provinsi tersebut masing-masing adalah 91,66%, 8,29%, 0,04%, dan 0,0001%. Berdasarkan data itu, Sumatera Utara merupakan provinsi terbesar eksportir tilapia dari Indonesia,” kata Suhana dalam keterangannya, Sabtu (5/2/2022).
Dari angka USD78,44 juta nilai ekspor ikan nila Indonesia ke pasar global, kontribusi ekspor nila dari Sumatera Utara mencapai USD71,89 juta. Ekspor ikan nila dari Sumatera Utara mayoritas dikirim ke Amerika (61,29%), sisanya ke Kanada (14,63%) dan Taiwan (11,73%).
Sebagai ikan yang dibudidayakan terbanyak kedua di seluruh dunia, perkembangan perdagangan ikan nila global akan terus meningkat. Apalagi, ikan nila juga dikenal sebagai aquatic chicken karena kemudahan dibudidayakan secara massal dan pengkinian teknologi pembiakan sehingga dapat menyusul industri peternakan ayam di Amerika. Di samping itu, seperti daging ayam, ikan nila juga menarik konsumen yang beragam.
Apalagi, ikan nila yang dibudidayakan mengikuti cara budidaya yang baik dan benar sesuai prinsip good aquaculture practice (GAP), akan menghasilkan daging ikan berkualitas tinggi. Seperti ikan nila yang dibudidayakan sesuai GAP di Danau Toba, sangat diterima pasar mancanegara karena daging ikan yang rasanya enak, menyehatkan, tidak berbau lumpur, dan bebas residu antibiotik. Ikan nila Danau Toba mengungguli ikan nila dari China.
Daniel Pauly, ilmuwan perikanan yang paling banyak dikutip di dunia membenarkan istilah nila sebagai aquatic chicken. “Nila merupakan ikan yang sangat enak dan menyehatkan. Anda bisa membudidayakannya di halaman rumah tetapi juga bisa membudidayakannya dalam konteks (skala) industri. Nila bisa menjadi “ayam”, “ayamnya air” (aquatic chicken) di masa depan,” jelasnya melansir Marine Fisheries & Aquatic Series PBS.org.
Melihat fakta tersebut, prospek ekspor ikan nila semakin terbuka. Hal ini senada dengan analisis Suhana. Indeks analisis penetrasi pasar ekspor Nila Indonesia tahun 2019 hanya sebesar 0,10 atau turun dibandingkan tahun 2012 yang mencapai 0,18.
Dari angka USD78,44 juta nilai ekspor ikan nila Indonesia ke pasar global, kontribusi ekspor nila dari Sumatera Utara mencapai USD71,89 juta. Ekspor ikan nila dari Sumatera Utara mayoritas dikirim ke Amerika (61,29%), sisanya ke Kanada (14,63%) dan Taiwan (11,73%).
Sebagai ikan yang dibudidayakan terbanyak kedua di seluruh dunia, perkembangan perdagangan ikan nila global akan terus meningkat. Apalagi, ikan nila juga dikenal sebagai aquatic chicken karena kemudahan dibudidayakan secara massal dan pengkinian teknologi pembiakan sehingga dapat menyusul industri peternakan ayam di Amerika. Di samping itu, seperti daging ayam, ikan nila juga menarik konsumen yang beragam.
Apalagi, ikan nila yang dibudidayakan mengikuti cara budidaya yang baik dan benar sesuai prinsip good aquaculture practice (GAP), akan menghasilkan daging ikan berkualitas tinggi. Seperti ikan nila yang dibudidayakan sesuai GAP di Danau Toba, sangat diterima pasar mancanegara karena daging ikan yang rasanya enak, menyehatkan, tidak berbau lumpur, dan bebas residu antibiotik. Ikan nila Danau Toba mengungguli ikan nila dari China.
Daniel Pauly, ilmuwan perikanan yang paling banyak dikutip di dunia membenarkan istilah nila sebagai aquatic chicken. “Nila merupakan ikan yang sangat enak dan menyehatkan. Anda bisa membudidayakannya di halaman rumah tetapi juga bisa membudidayakannya dalam konteks (skala) industri. Nila bisa menjadi “ayam”, “ayamnya air” (aquatic chicken) di masa depan,” jelasnya melansir Marine Fisheries & Aquatic Series PBS.org.
Melihat fakta tersebut, prospek ekspor ikan nila semakin terbuka. Hal ini senada dengan analisis Suhana. Indeks analisis penetrasi pasar ekspor Nila Indonesia tahun 2019 hanya sebesar 0,10 atau turun dibandingkan tahun 2012 yang mencapai 0,18.
Lihat Juga :