Profil Zaki Yamani, Menteri Perminyakan Arab Saudi yang Berani Embargo Minyak
Rabu, 09 Maret 2022 - 11:24 WIB
Arab Saudi memutuskan untuk melakukan embargo minyak ke AS dan negara Barat lain pada 1973, karena Negeri Paman Sam itu tetap menyokong Israel. Diketahui, AS memberikan pasokan persenjataan militer ke Israel. Sebelumnya, Raja Faisal sudah mengingatkan Presiden AS kala itu, Richard Nixon, untuk tidak mengganti senjata Israel yang rusak. Namun, peringatan itu tidak digubris Nixon.
Embargo minyak oleh Arab Saudi terjadi saat Zaki Yamani menjabat sebagai Menteri Perminyakan Saudi. Langkahnya yang berani itu menjadi sorotan banyak pihak. Namun, sepertinya kurang ditakuti karena persediaan minyak di Barat masih sangat tinggi. Lantas, bagaimana profil Yamani yang berhasil mencuri perhatian itu?
Ahmed Zaki Yamani adalah pria kelahiran Mekah, 30 Juni 1930. Ia wafat di London pada usia 90 tahun. Yamani memang berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Ayahnya, Hassan Yamani, adalah seorang sarjana Hukum Islam yang disegani.
Yamani mengenyam pendidikan hukum di Universitas Fouad I dan lulus pada 1951. Dia meraih gelar master di New York, 4 tahun setelahnya. Dikenal sebagai seseorang yang cerdas, Yamani kembali menempuh pendidikan magisternya yang ke-2 di Harvard dan lulus pada 1956.
Ia diangkat sebagai Menteri Perminyakan dan Sumber Daya Mineral pada 9 Maret 1962. Selama bertugas, Yamani dipandang sebagai pribadi yang ramah, santun dan nada bicaranya yang lembut. Melansir The Guardian, Yamani mulai menjabat pada masa pemerintahan Raja Saud, dan berhenti menjadi menteri saat Raja Fahd berkuasa di tahun 1986.
Yamani aktif dalam organisasi OPEC selama 25 tahun dan sangat berpengaruh. Selama dekade 1960-an, harga minyak bumi hanya 2 dolar AS per barel. Yamani pun tegas melakukan embargo sebagai bentuk protes kepada pemerintah AS yang terus mendukung Israel. Akibat terjadinya krisis minyak, harga minyak dunia naik berkali-kali lipat.
Embargo minyak oleh Arab Saudi terjadi saat Zaki Yamani menjabat sebagai Menteri Perminyakan Saudi. Langkahnya yang berani itu menjadi sorotan banyak pihak. Namun, sepertinya kurang ditakuti karena persediaan minyak di Barat masih sangat tinggi. Lantas, bagaimana profil Yamani yang berhasil mencuri perhatian itu?
Ahmed Zaki Yamani adalah pria kelahiran Mekah, 30 Juni 1930. Ia wafat di London pada usia 90 tahun. Yamani memang berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Ayahnya, Hassan Yamani, adalah seorang sarjana Hukum Islam yang disegani.
Yamani mengenyam pendidikan hukum di Universitas Fouad I dan lulus pada 1951. Dia meraih gelar master di New York, 4 tahun setelahnya. Dikenal sebagai seseorang yang cerdas, Yamani kembali menempuh pendidikan magisternya yang ke-2 di Harvard dan lulus pada 1956.
Ia diangkat sebagai Menteri Perminyakan dan Sumber Daya Mineral pada 9 Maret 1962. Selama bertugas, Yamani dipandang sebagai pribadi yang ramah, santun dan nada bicaranya yang lembut. Melansir The Guardian, Yamani mulai menjabat pada masa pemerintahan Raja Saud, dan berhenti menjadi menteri saat Raja Fahd berkuasa di tahun 1986.
Yamani aktif dalam organisasi OPEC selama 25 tahun dan sangat berpengaruh. Selama dekade 1960-an, harga minyak bumi hanya 2 dolar AS per barel. Yamani pun tegas melakukan embargo sebagai bentuk protes kepada pemerintah AS yang terus mendukung Israel. Akibat terjadinya krisis minyak, harga minyak dunia naik berkali-kali lipat.
Lihat Juga :