Sell in May and Go Away versi MNC Sekuritas: Mitos atau Fakta?
Selasa, 10 Mei 2022 - 20:27 WIB
MNC Sekuritas beberkan fakta seputar Sell in May and Go Away. Foto/Ist
JAKARTA - MNC Sekuritas merupakan unit bisnis dari PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) dan perusahaan sekuritas terbaik yang memiliki reputasi serta mendapat beragam penghargaan. Sejalan dengan hal tersebut, MNC Sekuritas senantiasa memberikan edukasi terkini seputar dunia pasar modal .
Baca juga: Ingin Jadi Pemburu Dividen? Yuk, Simak 3 Tips Ini ala MNC Sekuritas!
Memasuki bulan Mei setiap tahunnya, investor akan seringkali mendengar istilah Sell in May and Go Away. Fenomena ini merupakan kecenderungan aksi investor yang dipercayai menjual saham pada bulan Mei hingga Oktober memasuki musim panas, sehingga volume perdagangan terbatas dan kinerja pasar modal dinilai kurang menarik. Dengan demikian, investor akan mulai kembali masuk ke pasar modal pada November.
Pjs Head of Research MNC Sekuritas Victoria Venny mengungkapkan berdasarkan data historis bulanan rata-rata 10 tahun, kinerja IHSG pada bulan Mei memang tertekan 0,54% namun bukan menjadi bulan dengan kinerja terburuk. Venny menambahkan pada awal Mei 2022, pasca-libur Hari Raya Idulfitri, IHSG mengalami tekanan jual yang signifikan lebih dari 7%. Hal tersebut diakibatkan beberapa hal seperti aksi panic selling yang terjadi akibat kenaikan FFR 50 bps di tengah lagging period liburan.
Baca juga: Ingin Jadi Pemburu Dividen? Yuk, Simak 3 Tips Ini ala MNC Sekuritas!
Memasuki bulan Mei setiap tahunnya, investor akan seringkali mendengar istilah Sell in May and Go Away. Fenomena ini merupakan kecenderungan aksi investor yang dipercayai menjual saham pada bulan Mei hingga Oktober memasuki musim panas, sehingga volume perdagangan terbatas dan kinerja pasar modal dinilai kurang menarik. Dengan demikian, investor akan mulai kembali masuk ke pasar modal pada November.
Pjs Head of Research MNC Sekuritas Victoria Venny mengungkapkan berdasarkan data historis bulanan rata-rata 10 tahun, kinerja IHSG pada bulan Mei memang tertekan 0,54% namun bukan menjadi bulan dengan kinerja terburuk. Venny menambahkan pada awal Mei 2022, pasca-libur Hari Raya Idulfitri, IHSG mengalami tekanan jual yang signifikan lebih dari 7%. Hal tersebut diakibatkan beberapa hal seperti aksi panic selling yang terjadi akibat kenaikan FFR 50 bps di tengah lagging period liburan.
Lihat Juga :