Pelopor Green Banking, BNI Agresif Salurkan Pembiayaan Hijau
Jum'at, 13 Mei 2022 - 15:20 WIB
Mucharom memaparkan nilai portofolio hijau tersebut setara dengan 28,9 persen dari total portofolio kredit perseroan. Dari jumlah tersebut mayoritas adalah kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Portofolio hijau kami cukup ekspansif, awal tahun ini pertumbuhannya 21,8%. Penopangnya yaitu terbanyak dari kredit di UMKM dan ini dikarenakan program pendampingan yang dilakukan BNI memberikan dampak positif ke ekosistem masyarakat,” katanya.
Dia merinci, pembiayaan untuk UMKM dan pemberdayaan sosial ekonomi memiliki porsi terbesar yakni mencapai Rp115,2 triliun. Kemudian, pengelolaan sumber daya alam hayati dan tata guna lahan yang berkelanjutan sebesar Rp14,9 triliun, pembiayaan ke sektor energi baru terbarukan (EBT) senilai Rp10,3 triliun. Berikutnya, pembiayaan untuk pencegahan polusi senilai Rp6,8 triliun, dan pembiayaan hijau lainnya Rp23,3 triliun.
“BNI juga aktif menjalin kerja sama dengan debitur energi baru terbarukan (EBT) dan pencegahan polusi. Eksposur pembiayaan EBT ini Rp 10,3 triliun dan Rp 6,3 triliun untuk pencegahan polusi. Pembiayaan untuk pengolahan air bersih dan pengelolaan limbah mencapai Rp 23,3 triliun,” tuturnya.
Mucharom berpendapat energi fosil memang masih dibutuhkan masyarakat Indonesia. Namun, BNI sebagai bagian dari perkembangan EBT akan meningkatkan portofolio pembiayaan hijaunya. Karena BNI merupakan pioneer geen banking, sehingga perbaikan infrastruktur energi dan lingkungan masih perlu ditingkatkan.
“Portofolio hijau kami cukup ekspansif, awal tahun ini pertumbuhannya 21,8%. Penopangnya yaitu terbanyak dari kredit di UMKM dan ini dikarenakan program pendampingan yang dilakukan BNI memberikan dampak positif ke ekosistem masyarakat,” katanya.
Dia merinci, pembiayaan untuk UMKM dan pemberdayaan sosial ekonomi memiliki porsi terbesar yakni mencapai Rp115,2 triliun. Kemudian, pengelolaan sumber daya alam hayati dan tata guna lahan yang berkelanjutan sebesar Rp14,9 triliun, pembiayaan ke sektor energi baru terbarukan (EBT) senilai Rp10,3 triliun. Berikutnya, pembiayaan untuk pencegahan polusi senilai Rp6,8 triliun, dan pembiayaan hijau lainnya Rp23,3 triliun.
“BNI juga aktif menjalin kerja sama dengan debitur energi baru terbarukan (EBT) dan pencegahan polusi. Eksposur pembiayaan EBT ini Rp 10,3 triliun dan Rp 6,3 triliun untuk pencegahan polusi. Pembiayaan untuk pengolahan air bersih dan pengelolaan limbah mencapai Rp 23,3 triliun,” tuturnya.
Mucharom berpendapat energi fosil memang masih dibutuhkan masyarakat Indonesia. Namun, BNI sebagai bagian dari perkembangan EBT akan meningkatkan portofolio pembiayaan hijaunya. Karena BNI merupakan pioneer geen banking, sehingga perbaikan infrastruktur energi dan lingkungan masih perlu ditingkatkan.
Lihat Juga :