Petani Sawit sudah Terpuruk Dalam, Ini Opsi Petani kepada Presiden Jokowi
Jum'at, 24 Juni 2022 - 16:30 WIB
Opsi kedua, jika beban BK (Bea Keluar) diturunkan dari USD288 per ton menjadi USD200 per ton dan PE (Pungutan Ekspor) dari USD200 ditekan menjadi USD100 totalnya menjadi USD350, maka harga CPO Domestik Rp16.060 per kg CPO dan harga TBS petani naik menjadi Rp3.400 per kg (dengan asumsi rendemen TBS = 21%). Jika CPO Indonesia sama sekali tanpa beban, maka harga TBS petani adalah Rp4.500 per kg.
Dengan demikian beban TBS petani sesungguhnya jika dengan beban saat ini (full beban) adalah Rp2.340 per kg TBS. Ini menggambarkan betapa beratnya beban TBS petani sawit saat ini, yaitu 52% dari harga sesungguhnya (Rp4.500 per kg jika tanpa beban).
Jadi semuanya tergantung Presiden Jokowi, jika ingin membantu petani sawit mendapatkan haknya, maka opsi kedua adalah pilihan (beban hanya PE dan BK) maka harga TBS petani akan terdongkrak menjadi Rp3.400 per kg.
Namun jika tetap menggunakan opsi full beban, maka harga TBS petani Rp2.165 per kg (seperti saat ini). “Tentu ini beban yang luar biasa yang harus kami gendong sebagai petani kecil dengan keringat dan tulang kering kami sendiri,” ujar Gulat.
Saat ini semua serba salah, PKS sudah sangat terancam karena di satu sisi, PKS didesak oleh petani untuk membeli TBS mereka, namun di satu sisi tangki timbun penuh. Demikian juga dengan refinary terkendala di kecepatan ekspor karena banyaknya rintangan yang harus dilalui.
Oleh karena itu, lambatnya ekspor dari refinery mengakibatkan serapan CPO dari PKS menjadi lambat bahkan terhenti. Terhentinya atau lambatnya ekspor akan sangat berpengaruh kepada serapan TBS petani di PKS-PKS.
(Baca juga:Asosiasi Petani Sawit Tuntut Pencabutan Larangan Ekspor)
Jadi secara sederhana dikatakan bahwa anjloknya harga TBS petani diakibatkan oleh dua hal yaitu beban CPO dan lambatnya ekspor CPO dan turunannya. “Jadi kalau ada menteri yang mengatakan bahwa harga CPO memang lagi turun penyebab anjloknya harga TBS, itu salah,” kata Gulat.
Hasil rapat Apkasindo pada Selasa (21/6/2022) lalu diketahui dari 1.118 unit pabrik sawit diperkirakan 58 pabrik tutup total beroperasi. Sedangkan 114 unit pabrik sawit buka tutup. “Apakah ini juga karena harga CPO global lagi turun?,” tanya Gulat.
Dengan demikian beban TBS petani sesungguhnya jika dengan beban saat ini (full beban) adalah Rp2.340 per kg TBS. Ini menggambarkan betapa beratnya beban TBS petani sawit saat ini, yaitu 52% dari harga sesungguhnya (Rp4.500 per kg jika tanpa beban).
Jadi semuanya tergantung Presiden Jokowi, jika ingin membantu petani sawit mendapatkan haknya, maka opsi kedua adalah pilihan (beban hanya PE dan BK) maka harga TBS petani akan terdongkrak menjadi Rp3.400 per kg.
Namun jika tetap menggunakan opsi full beban, maka harga TBS petani Rp2.165 per kg (seperti saat ini). “Tentu ini beban yang luar biasa yang harus kami gendong sebagai petani kecil dengan keringat dan tulang kering kami sendiri,” ujar Gulat.
Saat ini semua serba salah, PKS sudah sangat terancam karena di satu sisi, PKS didesak oleh petani untuk membeli TBS mereka, namun di satu sisi tangki timbun penuh. Demikian juga dengan refinary terkendala di kecepatan ekspor karena banyaknya rintangan yang harus dilalui.
Oleh karena itu, lambatnya ekspor dari refinery mengakibatkan serapan CPO dari PKS menjadi lambat bahkan terhenti. Terhentinya atau lambatnya ekspor akan sangat berpengaruh kepada serapan TBS petani di PKS-PKS.
(Baca juga:Asosiasi Petani Sawit Tuntut Pencabutan Larangan Ekspor)
Jadi secara sederhana dikatakan bahwa anjloknya harga TBS petani diakibatkan oleh dua hal yaitu beban CPO dan lambatnya ekspor CPO dan turunannya. “Jadi kalau ada menteri yang mengatakan bahwa harga CPO memang lagi turun penyebab anjloknya harga TBS, itu salah,” kata Gulat.
Hasil rapat Apkasindo pada Selasa (21/6/2022) lalu diketahui dari 1.118 unit pabrik sawit diperkirakan 58 pabrik tutup total beroperasi. Sedangkan 114 unit pabrik sawit buka tutup. “Apakah ini juga karena harga CPO global lagi turun?,” tanya Gulat.
Lihat Juga :