Sri Lanka Hampir Bangkrut, Pembicaraan Paket Bailout IMF Tak Capai Sepakat

Jum'at, 01 Juli 2022 - 02:56 WIB
Baca Juga: Gegara Kebijakan Senangkan Rakyat, Sri Lanka Tuai Malapetaka

Dia menelusuri asal-usul masalah saat ini hingga pemotongan pajak tiga tahun lalu. "Kami berada dalam kekacauan saat ini ... karena pada November 2019, pemerintah memangkas pajak secara substansial. Tarif pajak pertambahan nilai dari 15% menjadi 8%," kata Devarajan.

Ditambahkan juga olehnya bahwa negara itu berada di ambang menjadi "negara yang rapuh."

"Mereka memiliki semua karakteristik (kondisi rapuh) saat ini. Bukan hanya protes di jalanan, tapi ... antrian bahan bakar," katanya, seraya menerangkan, bahwa sekarang ada konfrontasi dengan tentara dan polisi di berbagai tempat.

"Orang-orang telah terbunuh; ada beberapa baku tembak. Jadi ini adalah situasi yang sangat berbahaya untuk dihadapi," kata Devarajan.

Sri Lanka telah menutup sekolah-sekolah di daerah perkotaan dan para pejabat telah mendesak penduduk negara itu untuk bekerja dari rumah.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!