Kreator Konten jadi Profesi Idaman tapi Tak Jaminan Cuan, Arief Muhammad: Perlu Wadah
Rabu, 26 Oktober 2022 - 10:43 WIB
Menurut dia, wadah semacam ini akan semakin membuka peluang ekosistem ekonomi kreator di Indonesia terbentuk dan berpotensi besar memberikan dampak bagi perekenomian negeri.
“Mungkin nggak ya kalau bangsa kita bikin platform sendiri yang bisa lebih mendukung para kreator dan juga followers agar tetap produktif tapi tetep bisa making money dengan fair? Jadi sehat tuh ekosistemnya. Kreativitas bisa tersalur, dapur bisa tetap ngebul,” tutur pria yang menjadi brand ambassador sejumlah produk itu.
Arief pun berpesan kepada semua pihak yang terlibat di industri kreator untuk mulai bersama-sama menciptakan ekosistem yang sehat, di mana kreator, audiens, jenama (brand), dan regulator bisa saling mendukung dan bertumbuh bersama. Sehingga, ekonomi kreator terus bergulir.
“Ekosistem kreator di Indonesia punya potensi yang besar sekali. Apalagi kalau ada jaminan kreator bisa ‘hidup’ dari apa yang dikerjakannya,” tandasnya.
Dia menambahkan, perlu ada wadah untuk kreator, pengikut (followers), pihak swasta, maupun pemerintah untuk bisa saling dukung dalam membangun ekonomi kreator.
Mengutip laman East Ventures, ekonomi kreator telah tumbuh sejajar dengan apa yang dikenal sebagai model bisnis "social commerce" di industri e-commerce yang memanfaatkan platform media sosial untuk menjual produk.
Secara global, pasar kreator bernilai sekitar USD100 miliar, sedangkan di Asia Tenggara terdapat lebih dari 380 juta orang yang mengonsumsi konten media sosial selama 2-4 jam per hari.
Pasar e-commerce Indonesia sendiri diperkirakan akan mencapai Rp420,8 triliun (USD30 miliar) pada tahun 2022. Hal ini menandakan prospek bullish pada ekonomi kreator yang menyumbang Rp1,1 triliun terhadap PDB Indonesia dan menyerap 17 juta pekerja di 2020.
“Mungkin nggak ya kalau bangsa kita bikin platform sendiri yang bisa lebih mendukung para kreator dan juga followers agar tetap produktif tapi tetep bisa making money dengan fair? Jadi sehat tuh ekosistemnya. Kreativitas bisa tersalur, dapur bisa tetap ngebul,” tutur pria yang menjadi brand ambassador sejumlah produk itu.
Arief pun berpesan kepada semua pihak yang terlibat di industri kreator untuk mulai bersama-sama menciptakan ekosistem yang sehat, di mana kreator, audiens, jenama (brand), dan regulator bisa saling mendukung dan bertumbuh bersama. Sehingga, ekonomi kreator terus bergulir.
“Ekosistem kreator di Indonesia punya potensi yang besar sekali. Apalagi kalau ada jaminan kreator bisa ‘hidup’ dari apa yang dikerjakannya,” tandasnya.
Dia menambahkan, perlu ada wadah untuk kreator, pengikut (followers), pihak swasta, maupun pemerintah untuk bisa saling dukung dalam membangun ekonomi kreator.
Mengutip laman East Ventures, ekonomi kreator telah tumbuh sejajar dengan apa yang dikenal sebagai model bisnis "social commerce" di industri e-commerce yang memanfaatkan platform media sosial untuk menjual produk.
Secara global, pasar kreator bernilai sekitar USD100 miliar, sedangkan di Asia Tenggara terdapat lebih dari 380 juta orang yang mengonsumsi konten media sosial selama 2-4 jam per hari.
Pasar e-commerce Indonesia sendiri diperkirakan akan mencapai Rp420,8 triliun (USD30 miliar) pada tahun 2022. Hal ini menandakan prospek bullish pada ekonomi kreator yang menyumbang Rp1,1 triliun terhadap PDB Indonesia dan menyerap 17 juta pekerja di 2020.
(ind)
Lihat Juga :