Minyak Jatuh di Bawah USD85 per Barel, Harga BBM Bakalan Turun?
Jum'at, 10 Februari 2023 - 10:48 WIB
loading...
Harga minyak dunia jatuh di bawah USD85 per barel. Foto/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Harga minyak dunia jatuh pada akhir pekan, Jumat (10/2/2023), setelah sejumlah data ekonomi dunia menunjukkan adanya potensi resesi global. Namun, kejatuhan itu dapat diimbangi berkat pemulihan permintaan bahan bakar yang cukup kuat di China setelah Beijing membuka gembok pembatasannya.
Baca juga: Cek Harga BBM di Indonesia Usai Minyak Dunia Anjlok 5% Selama Sepekan
Hingga pukul 09:17 WIB minyak Brent untuk April 2023 di Intercontinental Exchange (ICE) turun 0,37% di level USD84,19 per barel. Sedangkan West Texas Intermediate AS untuk pengiriman Maret 2023 di New York Mercantile Exchange (NYMEX) melemah 0,50% di USD77,67 per barel.
Amerika Serikat baru merilis data klaim pengangguran yang meningkat lebih dari ekspektasi. Kenaikan ini muncul seiring pemecatan pekerja yang meluas di berbagai perusahaan, sehingga membangkitkan kekhawatiran terhadap potensi resesi.
"Sentimen semalam tampaknya condong ke sisi negatif setelah data pengangguran di AS, tetapi saya memperkirakan pemulihan permintaan China akan lebih memiliki dampak terhadap prospek harga hingga (paruh kedua) 2023," kata Head of Commodity Research National Australia Bank, Baden Moore.
Melansir Reuters, Jumat (10/2/2023), cadangan minyak negeri Paman Sam mengalami kenaikan secara akumulatif sejak Juni 2021 hingga per minggu ini, dipicu tren inflasi dan laju suku bunga. Pasokan yang lebih tinggi berpotensi dapat membebani harga minyak.
Namun demikian, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga yang lebih rendah dapat mendorong dolar melemah, yang pada gilirannya mendukung harga minyak. Jika greenback lebih lemah, maka akan membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, yang sering kali memicu pembelian.
Baca juga: Cek Harga BBM di Indonesia Usai Minyak Dunia Anjlok 5% Selama Sepekan
Hingga pukul 09:17 WIB minyak Brent untuk April 2023 di Intercontinental Exchange (ICE) turun 0,37% di level USD84,19 per barel. Sedangkan West Texas Intermediate AS untuk pengiriman Maret 2023 di New York Mercantile Exchange (NYMEX) melemah 0,50% di USD77,67 per barel.
Amerika Serikat baru merilis data klaim pengangguran yang meningkat lebih dari ekspektasi. Kenaikan ini muncul seiring pemecatan pekerja yang meluas di berbagai perusahaan, sehingga membangkitkan kekhawatiran terhadap potensi resesi.
"Sentimen semalam tampaknya condong ke sisi negatif setelah data pengangguran di AS, tetapi saya memperkirakan pemulihan permintaan China akan lebih memiliki dampak terhadap prospek harga hingga (paruh kedua) 2023," kata Head of Commodity Research National Australia Bank, Baden Moore.
Melansir Reuters, Jumat (10/2/2023), cadangan minyak negeri Paman Sam mengalami kenaikan secara akumulatif sejak Juni 2021 hingga per minggu ini, dipicu tren inflasi dan laju suku bunga. Pasokan yang lebih tinggi berpotensi dapat membebani harga minyak.
Namun demikian, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga yang lebih rendah dapat mendorong dolar melemah, yang pada gilirannya mendukung harga minyak. Jika greenback lebih lemah, maka akan membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, yang sering kali memicu pembelian.
Lihat Juga :