Meneropong Cara Ekonomi Rusia Tetap Bertahan di Tengah Gelombang Sanksi Barat dalam Setahun

Kamis, 02 Maret 2023 - 11:26 WIB
loading...
A A A
Strategi itu bahkan datang dengan nama yang menarik: Fortress Russia atau Benteng Rusia. Tetapi analis memperkirakan pada Maret tahun lalu bahwa semua, persiapan menghadapi sanksi ini tidak akan cukup. Seorang manajer aset meramalkan kepada The Economist: "Dari Benteng Rusia menjadi Puing-puing Rusia dalam seminggu."

- Bagaimana Perdagangan Rusia Beradaptasi dengan Sanksi


Dalam beberapa minggu pertama sanksi, konsumen Rusia merasakan tekanan berat karena tiba-tiba kehilangan impor. Pada awal Maret 2022, Alex Suvalko seorang sarjana studi budaya di universitas Moskow, pergi ke IKEA untuk membeli lemari es dan persediaan lainnya untuk apartemen barunya, namun Ia tidak menemukan apa-apa.

"Saya harus berkendara ke IKEA di Nizhny Novgorod, yang berjarak sekitar 450 km, untuk membeli barang-barang ini," kata Suvalko kepada Quartz saat itu.

Dia tidak beruntung keesokan harinya, IKEA mengumumkan bahwa mereka menutup toko dan pabriknya di Rusia. Namun tak lama kemudian, Rusia melakukan reorientasi diri, mengimpor barang-barang konsumen sebagian besar dari —atau melalui—Cina, Kazakhstan, dan Turki.

Peach di Capital Economics, mengatakan bahwa Rusia masih kesulitan untuk mengimpor beberapa barang berteknologi tinggi. Itu menjelaskan misalnya mengapa Rusia memproduksi mobil 60% lebih sedikit pada tahun 2022 daripada di tahun 2021.

"Itu karena sektor mobil bergantung pada suku cadang impor, banyak di antaranya berasal dari Jerman dan pada semikonduktor impor," kata Peach.

Tetapi industri otomotif hanya menyumbang 0,3% dari output Rusia. Layu pada sektor tersebut hanya menyisakan penyok kecil dalam perekonomian Rusia.

Sementara itu perubahan besar lainnya datang dalam ekspor energi Rusia. Ketika Barat dan Eropa khususnya mencoba untuk memberikan sanksi terhadap bahan bakar Rusia dan menyapih diri mereka sendiri dari minyak dan gas Rusia, Moskow menemukan pembeli besar lainnya: China dan India.

Meski menjual dengan harga diskon, tetapi harga komoditas melonjak hampir sepanjang tahun 2022 yang membawa Rusia mendapatkan rejeki nomplok. Eropa juga tidak bisa berhenti total dari ketergantungan terhadap gas Rusia, pada kuartal ketiga tahun lalu, bahan bakar Rusia masih menyumbang sekitar 15% dari semua impor energi UE.

Pendapatan minyak dan gas sebagai kontribusi terhadap anggaran Rusia, sebenarnya meningkat sebesar 28% pada tahun 2022. Sepanjang tahun ini, surplus transaksi berjalan Rusia -perbedaan antara uang yang masuk dan uang yang keluar dari negara itu- mencapai rekor tertinggi USD227 miliar. Meski demikian, sanksi dan pengeluaran militer menjadikan pertumbuhan Rusia datar.

- Bagaimana Bank Sentral Rusia Menyelamatkan Negaranya dari Keruntuhan


Untuk menghindari resesi, bank sentral Rusia memangkas suku bunga berulang kali tahun lalu, melepaskan gelombang likuiditas ke dalam sistem keuangan. Ini membantu mencegah keruntuhan perbankan, kata Peach.

"Sebagian besar kerugian yang diderita bank-bank Rusia tahun lalu adalah karena pembatalan kontrak setelah mereka terputus dari SWIFT," katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pasokan Minyak Global...
Pasokan Minyak Global Semakin Ketat, India dan China Berebut Diskon dari Rusia
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
Italia Boncos, Bayar...
Italia Boncos, Bayar Rp500 Juta per Hari Cuma Buat Parkir Superyacht Sitaan Milik Miliarder Rusia
AS Ancam Tarif 100%...
AS Ancam Tarif 100% Bagi Pembeli Minyak Rusia, China Meradang dan Siapkan Pembalasan
Warga India Gila Emas,...
Warga India 'Gila' Emas, Perusahaan Gadai Rusia Bidik Pasar Rp89.038 Triliun
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
Jenderal Tertinggi Ukraina...
Jenderal Tertinggi Ukraina Sebut Rusia Tidak Berhak untuk Eksis, Moskow Marah
Jet Tempur Siluman Su-57...
Jet Tempur Siluman Su-57 Rusia Seharga Rp2 Triliun Jatuh, Bukan akibat Ditembak Ukraina
Jenderal Tertinggi AS...
Jenderal Tertinggi AS Ungkap Jet Tempur F-16 Ukraina Tembak Jatuh Su-35 Rusia dalam Duel Langit
Rekomendasi
Pakar Kebijakan Publik...
Pakar Kebijakan Publik Soroti Ego Sektoral Penegakan Hukum, Sarankan Pelibatan KPK
Sopir dan Penumpang...
Sopir dan Penumpang Alphard yang Cekcok dengan Satpam di Bundaran HI Ternyata Personel Polda Jabar
Trump Ungkap Iran Sedang...
Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
Berita Terkini
BRI Life Hadirkan Solusi...
BRI Life Hadirkan Solusi Perlindungan Kesehatan dan Finansial
IHSG Naik 0,34% dalam...
IHSG Naik 0,34% dalam Sepekan, Ini Daftar Saham Cuan dan Rugi Terbesar
Perkuat Ekonomi Daerah,...
Perkuat Ekonomi Daerah, Dana Bagi Hasil Tambang Perlu Dievaluasi
Perpres Operasional...
Perpres Operasional Koperasi Desa Merah Putih Ditargetkan Terbit Pekan Depan, Atur Penyaluran Subsidi hingga Bansos
OJK Catat Transaksi...
OJK Catat Transaksi Kripto Rp23,01 Triliun, Pasar Futures Dinilai Kian Prospektif
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp7.000 Jadi Rp2,61 Juta per Gram, Ini Rinciannya
Infografis
Dalam Tiga Bulan Rusia...
Dalam Tiga Bulan Rusia Hancurkan 6 HIMARS di Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved