Ekonomi Rusia Tetap Tangguh Dihantam Sanksi Barat, Tahun Ini Ujian Sebenarnya
Selasa, 14 Maret 2023 - 09:48 WIB
loading...
A
A
A
Sementara 191 perusahaan asing telah meninggalkan Rusia dan 1.169 bersiap untuk melakukannya, sekitar 1.223 tinggal dan 496 mengambil pendekatan menunggu dan melihat, menurut database yang disusun oleh Kyiv School of Economics.
Perusahaan menghadapi tekanan publik dari Kiev dan Washington, tetapi beberapa orang merasa tidak mudah untuk menggaet pembeli Rusia, berbeda ketika mereka menjual barang-barang penting seperti makanan.
Sementara itu, warga Moskow telah meremehkan dampak sanksi."Mungkin itu belum mempengaruhi saya," kata pensiunan berusia 63 tahun Alexander Yeryomenko.
"Saya pikir kita akan menanggung segalanya."
Dmitry, 33 tahun yang menolak memberikan nama belakangnya, mengatakan hanya brand pakaian yang berubah. "Kami memiliki periode waktu yang lebih buruk dalam sejarah, dan kami mengatasinya," katanya.
Tetapi Ia menambahkan bahwa "kami (Rusia) perlu mengembangkan produksi kami sendiri dan tidak bergantung pada impor produk."
Salah satu alasan besar ketahanan Rusia yakni rekor pendapatan bahan bakar fosil sebesar USD325 miliar tahun lalu seiring terjadinya lonjakan harga. Kremlin sudah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk membuktikan ekonomi mereka mampu bertahan setelah menghadapi beberapa saksi karena mencaplok semenanjung Krimea Ukraina pada 2014.
Perusahaan mulai mencari suku cadang dan makanan di dalam negeri dan pemerintah membangun tumpukan besar uang tunai dari penjualan minyak dan gas alam. Namun sekitar setengah dari uang itu telah dibekukan, karena disimpan di luar negeri.
Langkah-langkah itu membantu menumpulkan prediksi keruntuhan 11% hingga 15% dalam output ekonomi. Ekonomi Rusia terbukti hanya menyusut 2,1% tahun lalu, kata badan statistik Rusia.
Sedangkan Dana Moneter Internasional atau IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Rusia hanya 0,3% tahun ini - tidak bagus, tetapi hampir tidak membawa bencana.
Para ahli di Kyiv School of Economics mengatakan, ekonomi Rusia akan menghadapi "titik balik" tahun ini karena pendapatan minyak dan gas turun 50% dan surplus perdagangan anjlok menjadi USD80 miliar dari USD257 miliar tahun lalu.
Mereka mengatakan itu sudah terjadi: Pendapatan pajak minyak turun 48% pada Januari dari tahun sebelumnya, menurut Badan Energi Internasional.
Perusahaan menghadapi tekanan publik dari Kiev dan Washington, tetapi beberapa orang merasa tidak mudah untuk menggaet pembeli Rusia, berbeda ketika mereka menjual barang-barang penting seperti makanan.
Sementara itu, warga Moskow telah meremehkan dampak sanksi."Mungkin itu belum mempengaruhi saya," kata pensiunan berusia 63 tahun Alexander Yeryomenko.
"Saya pikir kita akan menanggung segalanya."
Dmitry, 33 tahun yang menolak memberikan nama belakangnya, mengatakan hanya brand pakaian yang berubah. "Kami memiliki periode waktu yang lebih buruk dalam sejarah, dan kami mengatasinya," katanya.
Tetapi Ia menambahkan bahwa "kami (Rusia) perlu mengembangkan produksi kami sendiri dan tidak bergantung pada impor produk."
Salah satu alasan besar ketahanan Rusia yakni rekor pendapatan bahan bakar fosil sebesar USD325 miliar tahun lalu seiring terjadinya lonjakan harga. Kremlin sudah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk membuktikan ekonomi mereka mampu bertahan setelah menghadapi beberapa saksi karena mencaplok semenanjung Krimea Ukraina pada 2014.
Perusahaan mulai mencari suku cadang dan makanan di dalam negeri dan pemerintah membangun tumpukan besar uang tunai dari penjualan minyak dan gas alam. Namun sekitar setengah dari uang itu telah dibekukan, karena disimpan di luar negeri.
Langkah-langkah itu membantu menumpulkan prediksi keruntuhan 11% hingga 15% dalam output ekonomi. Ekonomi Rusia terbukti hanya menyusut 2,1% tahun lalu, kata badan statistik Rusia.
Sedangkan Dana Moneter Internasional atau IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Rusia hanya 0,3% tahun ini - tidak bagus, tetapi hampir tidak membawa bencana.
Para ahli di Kyiv School of Economics mengatakan, ekonomi Rusia akan menghadapi "titik balik" tahun ini karena pendapatan minyak dan gas turun 50% dan surplus perdagangan anjlok menjadi USD80 miliar dari USD257 miliar tahun lalu.
Mereka mengatakan itu sudah terjadi: Pendapatan pajak minyak turun 48% pada Januari dari tahun sebelumnya, menurut Badan Energi Internasional.
(akr)
Lihat Juga :