Perbesar Cadangan Beras Pemerintah, Otoritas Diminta Bikin Kebijakan Fleksibel
Kamis, 20 April 2023 - 10:37 WIB
loading...
A
A
A
Yayat mengatakan, tren penyerapan Bulog meningkat akhir-akhir ini. Itu tecermin dari penyerapan harian yang bisa mencapai 8.000-9.000 ton beras. Akan tetapi, jelas Yayat, penyerapan tetap menghadapi tantangan akibat harga gabah dan beras di pasar yang tinggi.
Kecenderungan harga gabah dan beras di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sudah terjadi sejak 2006. Harga, jelas Yayat, akan mendekati HPP menjelang puncak panen raya. "Di daerah yang produksinya banyak seperti Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, ada yang harganya sama dengan HPP atau di bawah HPP sehingga kami bisa menyerap," kata Yayat.
Harga gabah setelah memasuki panen raya Maret-April ini bergerak turun. Dari kisaran Rp5.800 per kilogram (kg) menjadi Rp5.200 per kg. Meskipun menurun, kata Yayat, harga ini masih di atas HPP untuk pembelian Bulog, yaitu Rp5.000 per kg. Ketika musim panen raya Februari-Mei lewat, harga gabah diperkirakan akan lebih tinggi lagi.
Agus Saifullah menduga, pedagang tidak memasok beras ke Bulog karena margin kurang menarik. Sebaliknya, margin menjual ke pasar umum lebih menjanjikan. Jika dugaan ini benar, kata Agus, pemerintah lewat Badan Pangan Nasional (Bapanas) perlu membuat kebijakan yang memberi peluang margin menjual beras ke Bulog kompetitif.
Salah satu yang bisa dipertimbangkan akan fleksibilitas harga. Fleksibilitas harga ini memungkinkan Bulog membeli beras di atas HPP dengan persentase tertentu. Agar efektif, kata Agus, fleksibilitas harga mesti berlaku dalam waktu tertentu. Bisa satu-dua minggu.
"Fleksibilitas harus jelas waktunya. Tidak seperti di masa lalu yang berlaku panjang dan tidak jelas periode waktunya. Intinya, dihadapkan pada kondisi yang serba tidak pasti otoritas kebijakan perlu membuat kebijakan yang fleksibel," kata Agus.
Untuk penguatan CBP dalam jangka panjang, kata Agus, yang penting adalah faktor kelembagaan. Menurut Agus, kelembagaan saat ini sudah lebih baik sejak adanya Bapanas. Lewat institusi yang dibentuk lewat Perpres 61 Tahun 2021 itu, berbagai perencanaan operasional Bulog dirancang oleh dengan baik.
Namun kata Agus, yang terpenting adalah faktor penganggaran. Baik penganggaran saat pengadaan, penyaluran, pengeluaran saat CBP mengalami overstok, dan pengeluaran saat CBP mengalami penurunan kualitas akibat masa simpan yang lebih lama.
"Saya lihat instrumen-instrumen itu sebenarnya sudah ada, tinggal diimplementasikan dengan waktu yang tepat, yaitu pada September. Perencanaan perberasan pada September sebetulnya sudah selesai semua. Karena pengadaan relatif berkurang, penyaluran sudah terlihat, dan panen bisa diprediksi. Jika diperlukan impor, bisa ditentukan karena di akhir dan awal tahun produksi beras di kawasan Asean sedang berlangsung," pungkasnya.
Kecenderungan harga gabah dan beras di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sudah terjadi sejak 2006. Harga, jelas Yayat, akan mendekati HPP menjelang puncak panen raya. "Di daerah yang produksinya banyak seperti Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, ada yang harganya sama dengan HPP atau di bawah HPP sehingga kami bisa menyerap," kata Yayat.
Harga gabah setelah memasuki panen raya Maret-April ini bergerak turun. Dari kisaran Rp5.800 per kilogram (kg) menjadi Rp5.200 per kg. Meskipun menurun, kata Yayat, harga ini masih di atas HPP untuk pembelian Bulog, yaitu Rp5.000 per kg. Ketika musim panen raya Februari-Mei lewat, harga gabah diperkirakan akan lebih tinggi lagi.
Agus Saifullah menduga, pedagang tidak memasok beras ke Bulog karena margin kurang menarik. Sebaliknya, margin menjual ke pasar umum lebih menjanjikan. Jika dugaan ini benar, kata Agus, pemerintah lewat Badan Pangan Nasional (Bapanas) perlu membuat kebijakan yang memberi peluang margin menjual beras ke Bulog kompetitif.
Salah satu yang bisa dipertimbangkan akan fleksibilitas harga. Fleksibilitas harga ini memungkinkan Bulog membeli beras di atas HPP dengan persentase tertentu. Agar efektif, kata Agus, fleksibilitas harga mesti berlaku dalam waktu tertentu. Bisa satu-dua minggu.
"Fleksibilitas harus jelas waktunya. Tidak seperti di masa lalu yang berlaku panjang dan tidak jelas periode waktunya. Intinya, dihadapkan pada kondisi yang serba tidak pasti otoritas kebijakan perlu membuat kebijakan yang fleksibel," kata Agus.
Untuk penguatan CBP dalam jangka panjang, kata Agus, yang penting adalah faktor kelembagaan. Menurut Agus, kelembagaan saat ini sudah lebih baik sejak adanya Bapanas. Lewat institusi yang dibentuk lewat Perpres 61 Tahun 2021 itu, berbagai perencanaan operasional Bulog dirancang oleh dengan baik.
Namun kata Agus, yang terpenting adalah faktor penganggaran. Baik penganggaran saat pengadaan, penyaluran, pengeluaran saat CBP mengalami overstok, dan pengeluaran saat CBP mengalami penurunan kualitas akibat masa simpan yang lebih lama.
"Saya lihat instrumen-instrumen itu sebenarnya sudah ada, tinggal diimplementasikan dengan waktu yang tepat, yaitu pada September. Perencanaan perberasan pada September sebetulnya sudah selesai semua. Karena pengadaan relatif berkurang, penyaluran sudah terlihat, dan panen bisa diprediksi. Jika diperlukan impor, bisa ditentukan karena di akhir dan awal tahun produksi beras di kawasan Asean sedang berlangsung," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :