50 Tahun TIKI Gerakkan Ekonomi Masyarakat hingga Pelosok
Selasa, 21 Juli 2020 - 07:30 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, perusahaan ini juga sudah bisa melayani 88% dari total 514 wilayah kota/kabupaten di Indonesia. Dan mayoitas dari 82.505 kelurahan/desa di Indonesia juga sudah terlayani oleh TIKI.
Ester Wiraseputra menjelaskan, TIKI sendiri telah menjangkau hingga Indonesia Bagian Timur. Bahkan sudah memiliki kantor cabang di Papua. Di Indonesia Bagian Timur, TIKI memiliki 96 kantor perwakilan dan 220 gerai.
“Di Sulawesi Selatan, TIKI memiliki 25 kantor perwakilan dan 68 gerai dimana 50 nya adalah milik mitra keagenan lokal. TIKI terus melakukan pendampingan dan pelatihan bagi para karyawan dari mitra kami untuk memastikan layanan yang prima dan konsisten di setiap gerai TIKI,” terangnya.
![50 Tahun TIKI Gerakkan Ekonomi Masyarakat hingga Pelosok]()
Kurir PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI), Ansyar melewati pematang sawah untuk mengantar barang kiriman di Kecamatan Manggala, Makassar, (20/7/2020). TIKI mengerti peranannya dalam pendistribusian barang dari satu daerah ke daerah lain memiliki dampak yang besar dalam menggerakkan roda perekonomian antara wilayah. SINDONEWS/MAMAN SUKIRMAN
Tidak hanya aspek bisnis, TIKI percaya bahwa eksistensi bisnisnya tidak terlepas dari dukungan dan kepercayaan dari masyarakat. Untuk itu, TIKI memiliki komitmen untuk menjalankan tanggung jawab perusahaan yang difokuskan pada dua area yaitu pendidikan dan bidang sosial.
Nilai-nilai ini pula yang selalu ditanamkan kepada para mitra keagenan lokalnya untuk juga berbagi dengan masyarakat di sekitarnya.
Dalam mewujudkan semua itu, Ester Wiraseputra memaparkan, TIKI telah melalui berbagai fase dan menyaksikan perkembangan Indonesia antara lain dalam hal ekonomi, infrastruktur, dan sosial.
Tantangan dan kendala tentunya ada dan berbeda-beda sering dengan perubahan jaman. Dimana, di awal-awal TIKI berdiri, infrastruktur dan akses transportasi menjadi tantangan bagi jasa pengiriman seperti TIKI dalam mengantarkan barang ke wilayah-wilayah dengan akses yang masih belum memadai.
Lebih lanjut berkembangnya ekonomi suatu wilayah dan pertumbuhan UMKM juga memiliki tantangan tersendiri yaitu bagaimana membangun hubungan kemitraan yang saling menguntungkan dan membangun agar barang kiriman mereka sampai di pelanggan / tempat tujuan dalam kondisi baik dan tepat waktu.
Sebelumnya, banyak komplain terhadap kondisi barang kiriman yang rusak akibat cara pengemasan yang kurang tepat oleh pengiriman.
Atau barang kiriman akhirnya terlambat dikirimkan karena pihak TIKI harus mengemas ulang barang kirimannya karena kemasan yang kurang layak untuk jenis barang tertentu.
Oleh karena itu, TIKI juga turut mengembangkan kapabilitas pelaku bisnis terutama UMKM dengan berbagi pengalaman terkait pengelolaan sistem distribusi. TIKI berkolaborasi dengan berbagai mitra seperti market place untuk memberikan pembekalan bagi UMKM terkait aspek-aspek penting dalam pengiriman dan membuka dialog untuk memahami kendala-kendala yang sering mereka alami dan bagaimana jasa pengiriman dapat membantu memberikan solusi.
“Penetrasi internet dan perkembangannya kebiasaan belanja online juga kemudian membangun sebuah kebiasaan baru, dimana konsumen ingin lebih banyak melakukan transaksi dengan lebih mudah dan serba digital,”ungkapnya.
Hal ini juga menuntut perusahaan jasa pengiriman seperti TIKI untuk berinovasi di bidang teknologi.
Untuk menjawab perkembangan jaman, TIKI melakukan strategi TIKI Go Digital dengan menyediakan produk dan layanan yang berbasis teknologi yang bertujuan untuk memberikan kemudahan akses bagi konsumen dengan memperbanyak kanal bagi konsumen untuk melakukan pengiriman tanpa perlu terkendala waktu.
Berbagai produk dan layanan berbasis teknologi yang menjadi unggulan TIKI antara lain layanan JEMPOL (Jemput Online) yang memungkinkan pelanggan melakukan pemesanan dimanapun dan kurir TIKI akan datang menjemput barang kiriman di lokasi yang ditetapkan pelanggan tanpa dikenakan biaya tambahan.
Ester Wiraseputra menjelaskan, TIKI sendiri telah menjangkau hingga Indonesia Bagian Timur. Bahkan sudah memiliki kantor cabang di Papua. Di Indonesia Bagian Timur, TIKI memiliki 96 kantor perwakilan dan 220 gerai.
“Di Sulawesi Selatan, TIKI memiliki 25 kantor perwakilan dan 68 gerai dimana 50 nya adalah milik mitra keagenan lokal. TIKI terus melakukan pendampingan dan pelatihan bagi para karyawan dari mitra kami untuk memastikan layanan yang prima dan konsisten di setiap gerai TIKI,” terangnya.

Kurir PT Citra Van Titipan Kilat (TIKI), Ansyar melewati pematang sawah untuk mengantar barang kiriman di Kecamatan Manggala, Makassar, (20/7/2020). TIKI mengerti peranannya dalam pendistribusian barang dari satu daerah ke daerah lain memiliki dampak yang besar dalam menggerakkan roda perekonomian antara wilayah. SINDONEWS/MAMAN SUKIRMAN
Tidak hanya aspek bisnis, TIKI percaya bahwa eksistensi bisnisnya tidak terlepas dari dukungan dan kepercayaan dari masyarakat. Untuk itu, TIKI memiliki komitmen untuk menjalankan tanggung jawab perusahaan yang difokuskan pada dua area yaitu pendidikan dan bidang sosial.
Nilai-nilai ini pula yang selalu ditanamkan kepada para mitra keagenan lokalnya untuk juga berbagi dengan masyarakat di sekitarnya.
Dalam mewujudkan semua itu, Ester Wiraseputra memaparkan, TIKI telah melalui berbagai fase dan menyaksikan perkembangan Indonesia antara lain dalam hal ekonomi, infrastruktur, dan sosial.
Tantangan dan kendala tentunya ada dan berbeda-beda sering dengan perubahan jaman. Dimana, di awal-awal TIKI berdiri, infrastruktur dan akses transportasi menjadi tantangan bagi jasa pengiriman seperti TIKI dalam mengantarkan barang ke wilayah-wilayah dengan akses yang masih belum memadai.
Lebih lanjut berkembangnya ekonomi suatu wilayah dan pertumbuhan UMKM juga memiliki tantangan tersendiri yaitu bagaimana membangun hubungan kemitraan yang saling menguntungkan dan membangun agar barang kiriman mereka sampai di pelanggan / tempat tujuan dalam kondisi baik dan tepat waktu.
Sebelumnya, banyak komplain terhadap kondisi barang kiriman yang rusak akibat cara pengemasan yang kurang tepat oleh pengiriman.
Atau barang kiriman akhirnya terlambat dikirimkan karena pihak TIKI harus mengemas ulang barang kirimannya karena kemasan yang kurang layak untuk jenis barang tertentu.
Oleh karena itu, TIKI juga turut mengembangkan kapabilitas pelaku bisnis terutama UMKM dengan berbagi pengalaman terkait pengelolaan sistem distribusi. TIKI berkolaborasi dengan berbagai mitra seperti market place untuk memberikan pembekalan bagi UMKM terkait aspek-aspek penting dalam pengiriman dan membuka dialog untuk memahami kendala-kendala yang sering mereka alami dan bagaimana jasa pengiriman dapat membantu memberikan solusi.
“Penetrasi internet dan perkembangannya kebiasaan belanja online juga kemudian membangun sebuah kebiasaan baru, dimana konsumen ingin lebih banyak melakukan transaksi dengan lebih mudah dan serba digital,”ungkapnya.
Hal ini juga menuntut perusahaan jasa pengiriman seperti TIKI untuk berinovasi di bidang teknologi.
Untuk menjawab perkembangan jaman, TIKI melakukan strategi TIKI Go Digital dengan menyediakan produk dan layanan yang berbasis teknologi yang bertujuan untuk memberikan kemudahan akses bagi konsumen dengan memperbanyak kanal bagi konsumen untuk melakukan pengiriman tanpa perlu terkendala waktu.
Berbagai produk dan layanan berbasis teknologi yang menjadi unggulan TIKI antara lain layanan JEMPOL (Jemput Online) yang memungkinkan pelanggan melakukan pemesanan dimanapun dan kurir TIKI akan datang menjemput barang kiriman di lokasi yang ditetapkan pelanggan tanpa dikenakan biaya tambahan.
Lihat Juga :