Saham Bank-bank di AS Ambrol Usai JP Morgan Beli First Republic

Rabu, 03 Mei 2023 - 10:53 WIB
loading...
Saham Bank-bank di AS...
Saham bank-bank di AS turun tajam usai JP Morgan beli First Republic. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Saham bank-bank di Amerika Serikat (AS) turun tajam usai JP Morgan beli First Republic Bank . Investor khawatir krisis perbankan yang mencengkeram pasar keuangan belum berakhir.

Penurunan berawal dari runtuhnya First Republic, yang disita oleh regulator AS dan dijual setelah para nasabah yang khawatir menarik lebih dari USD100 miliar. Ini adalah kegagalan bank terbesar kedua dalam sejarah AS dan yang ketiga sejak Maret.

Baca Juga: Sejarah First Republic Bank: Fokus Nasabah Elite, Nyaris Bangkrut dan Akhirnya Dilelang

Mengutip BBC, para pemegang saham kehilangan seluruh sahamnya, dan kini mengincar risiko bank-bank lain. PacWest Bancorp yang berbasis di California, yang telah berada di bawah pengawasan untuk pinjamannya kepada perusahaan-perusahaan yang didukung oleh modal ventura mengalami penurunan saham sebesar 28%.

Saham Western Alliance, yang berkantor pusat di Arizona turun 15%. Gejolak itu terjadi ketika sektor perbankan menyesuaikan dengan kenaikan suku bunga yang tajam.

Bank sentral AS telah menaikkan suku bunga acuan dari mendekati nol pada Maret lalu menjadi lebih dari 4,75%. Diperkirakan akan mengumumkan kenaikan 0,25% lagi minggu ini.

Langkah-langkah tersebut berdampak pada ekonomi AS, yang dapat merugikan bank-bank karena bisnis dan rumah tangga mulai berjuang untuk melakukan pembayaran utang. Banyak analis mengkhawatirkan risiko yang mengintai bank di sektor properti komersial, yang telah terpukul oleh penurunan permintaan ruang kantor karena perluasan kerja jarak jauh.

Adapun kenaikan suku bunga telah membuat beberapa bank berada dalam posisi sulit, karena suku bunga yang lebih tinggi merugikan nilai pasar dari beberapa utang yang diterbitkan ketika biaya pinjaman lebih rendah. Kekhawatiran meningkat pada bulan Maret, ketika kepanikan yang dipicu oleh runtuhnya Silicon Valley Bank yang saat itu merupakan pemberi pinjaman terbesar ke-16 di AS telah memicu aksi jual saham bank secara global dan membuat banyak nasabah bank AS mengalihkan dana mereka ke perusahaan-perusahaan yang dianggap lebih aman.

Bank-bank besar terbukti menjadi pemenang, sementara perusahaan-perusahaan regional berada di bawah tekanan. Kekhawatiran tersebut merenggut Signature Bank dan akhirnya First Republic, yang tidak dapat bertahan dari kehilangan dana.

PacWest melaporkan bulan lalu bahwa simpanannya menyusut 16% dari akhir Desember hingga akhir Maret. Sementara saham Western Alliance turun 11%. Adapun kedua bank tersebut mengatakan bahwa mereka telah melihat deposito mulai meningkat lagi baru-baru ini karena kekhawatiran mereda.

Kepala eksekutif JP Morgan Chase Jamie Dimon berpendapat pembelian aset First Republic akan mengakhiri krisis.

"Bagian krisis ini sudah berakhir," katanya. "Di masa depan, ada suku bunga yang akan naik, real estat, resesi itu adalah masalah yang sama sekali berbeda, tetapi untuk saat ini, semua orang harus menarik napas dalam-dalam," kata Jamie.

Baca Juga: Nyaris Bangkrut, Nasabah Bank First Republic Tarik Dana Rp1.493 Triliun

Para analis mengatakan sistem perbankan AS yang memiliki lebih dari 4.000 bank bisa jadi akan mengalami gelombang konsolidasi karena ekonomi melemah. Mereka membandingkan situasi tersebut pada 1980-an ketika ratusan pemberi pinjaman ditutup setelah lengah karena kenaikan suku bunga yang tajam dan kredit properti komersial yang buruk.

"Ini terutama masalah suku bunga. Namun jika kita masuk ke dalam resesi, ini bisa menjadi pukulan ganda," ujar konsultan perbankan Bert Ely. "Saya pikir mungkin keadaan sudah sedikit lebih baik dibandingkan tahun 80-an, namun masih banyak ketidakpastian di luar sana," kata dia.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Danamon Gelar DIVE-Chapter...
Danamon Gelar DIVE-Chapter Youth, Kenalkan Perbankan ke Generasi Muda
LPS Naikkan Tingkat...
LPS Naikkan Tingkat Bunga Penjaminan Bank Umum Jadi 3,75%
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
IHSG Hari Ini Ditutup...
IHSG Hari Ini Ditutup Merosot 0,25% ke 6.101, Diwarnai Pelemahan 398 Saham
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Venezuela Umumkan Keadaan...
Venezuela Umumkan Keadaan Darurat setelah Diguncang 2 Gempa Dahsyat, 32 Orang Tewas
Rekomendasi
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Kami Sudah Siapkan Bukti-bukti Kuat di Sidang Kasus Ijazah Jokowi
Kapal Induk Garibaldi...
Kapal Induk Garibaldi dan Masa Depan Strategi Maritim Indonesia
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Berita Terkini
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
EV Services: Membangun...
EV Services: Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik yang Semakin Terintegrasi
Nasabah Mekaar Naik...
Nasabah Mekaar Naik Kelas Capai 2,5 Juta Sepanjang 2025
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
Kredit Pintar dan AFPI...
Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved