Ekonom: Kontraksi Ekonomi Global 2020 Terburuk Sejak Perang Dunia II
Rabu, 22 Juli 2020 - 11:57 WIB
loading...
A
A
A
Meski begitu, kegiatan ekonomi di beberapa negara, khususnya Tiongkok dan sejumlah negara Eropa berangsur-angsur pulih, sejalan dengan pelonggaran restriksi kegiatan ekonomi dan penurunan jumlah kasus baru penderita Covid-19.Purchasing Manager Index di negara tersebut pada akhir kuartal kedua telah mengalami rebound tipis. Optimisme pemulihan ekonomi akan semakin besar dengan kemajuan beberapa produsen vaksin, seperti Sinovac dan University of Oxford/AstraZeneca, yang telah melakukan uji klinis tahap dua dan tiga.
"Dengan demikian, vaksin tersebut dapat dirilis ke publik pada awal tahun depan, sehingga penularan pandemi ini dapat ditekan dan proses pemulihan ekonomi tahun depan akan berlangsung lebih cepat," harap Faisal.
Baca Juga: Ancaman Resesi Global di Depan Mata, Anggota G20 Rapatkan Barisan
Selain itu, harga komoditas, yang menjadi salah satu leading indicators pertumbuhan ekonomi juga mulai mengalami rebound, setelah sempat mengalami kejatuhan tajam pada kuartal kedua. Namun, menurut dia, angkanya masih berada di bawah level tahun lalu. Pada bulan Juni, misalnya, indeks harga energi, yang terdiri dari minyak mentah, gas, dan batu bara, telah naik 65% dibandingkan bulan penurunan terdalamnya pada bulan April.
"Tren kenaikan ini diperkirakan akan berlanjut sejalan dengan mulai menggeliatnya kegiatan ekonomi negara-negara yang telah memperlonggar kebijakan pembatasan sosialnya," ungkap Faisal.
"Dengan demikian, vaksin tersebut dapat dirilis ke publik pada awal tahun depan, sehingga penularan pandemi ini dapat ditekan dan proses pemulihan ekonomi tahun depan akan berlangsung lebih cepat," harap Faisal.
Baca Juga: Ancaman Resesi Global di Depan Mata, Anggota G20 Rapatkan Barisan
Selain itu, harga komoditas, yang menjadi salah satu leading indicators pertumbuhan ekonomi juga mulai mengalami rebound, setelah sempat mengalami kejatuhan tajam pada kuartal kedua. Namun, menurut dia, angkanya masih berada di bawah level tahun lalu. Pada bulan Juni, misalnya, indeks harga energi, yang terdiri dari minyak mentah, gas, dan batu bara, telah naik 65% dibandingkan bulan penurunan terdalamnya pada bulan April.
"Tren kenaikan ini diperkirakan akan berlanjut sejalan dengan mulai menggeliatnya kegiatan ekonomi negara-negara yang telah memperlonggar kebijakan pembatasan sosialnya," ungkap Faisal.
(nng)
Lihat Juga :