Perbedaan BUMN Karya: Waskita, Hutama, Wika dan Adhi
Senin, 22 Mei 2023 - 09:35 WIB
loading...
A
A
A
Pada tahun 1972, PN Widjaja Karja menjadi PT Wijaya Karya, yang menjadi perusahaan konstruksi dan subkontrak. Pada tahun 1982, WIKA mengalami banyak pengembangan manajemen, seringkali melibatkan proyek-proyek infrastruktur utama pemerintah.
Pada tahun 1997, WIKA mendirikan anak perusahaan pertamanya, salah satunya adalah PT WIKA Beton. Setelah itu mendirikan anak perusahaan, seperti PT WIKA Industri Konstruksi, PT WIKA Bitumen, PT WIKA Bangunan, PT WIKA Rekayasa Konstruksi, PT WIKA Realty dan PT WIKA Serang Panimbang.
Melalui Penawaran Saham Perdana (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia pada 27 Oktober 2007, WIKA melepas 28,46% saham ke publik. Sementara kepemilikan sisanya masih dipegang oleh Pemerintah Republik Indonesia.
egiatan usaha WIKA difokuskan pada optimalisasi 5 (lima) lini usaha, yaitu: 1. Investasi yang meliputi, Energi (Energi Terbarukan), Infrastruktur, dan Prasarana Air. 2. Realti & Properti, Pengembangan Real Estat & Properti dan Manajemen Properti.
Lalu nomor 3. Prasarana dan Bangunan, yang terdiri dari konstruksi sipil, konstruksi bangunan, dan konstruksi baja. 4. Proyek Energi & Industri, termasuk EPCC dan Energi Listrik, serta Proyek Energi Terbarukan.
Selanjutnya ke-5.Industri, sektor industri WIKA memproduksi Beton Pracetak, Industri Konstruksi, Kendaraan Bermotor Listrik, dan Produksi Aspal.
Dengan nama Hutama Karya NP, perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia ini secara resmi diratifikasi oleh Peraturan Pemerintah (PP) no. 61 tahun 1961, 29 Maret 1961. Pada tahun 1961, pekerjaan Hutama PN dalam konstruksi bangunan bernilai historis dan monumental. Misalnya, gedung MPR /RI dan monumen patung dirgantara di Jakarta.
Pada tahun 1970-an, Hutama Karya pertama kalinya menghadirkan sistem konstruksi “sistem pratekan” BBRV di Swiss dengan teknologi beton pracetak. Kemudian, Hutama Karya NP, berkembang pesat dan berubah status menjadi PT Hutama Karya.
Selama periode 1980-2016, perusahaan melakukan diversifikasi dan memperluas operasinya di luar negeri. Selain itu, membangun infrastruktur teknologi tinggi dalam bentuk jembatan bentang panjang seperti Jembatan Ampera di Palembang.
Memasuki era milenial dimana dinamika perekonomian semakin pesat, Hutama Karya merevitalisaasi diri dengan melakukan pengembangan usaha untuk sektor-sektor swasta melalui pembangunan High Rise Building (Bakrie Tower dan Apartemen-Apartemen) maupun infrastruktur lainnya seperti jalan tol.
Pada 2014, Hutama Karya resmi menerima penugasan Pemerintah untuk mengembangkan Jalan Tol Trans-Sumatera. Tahun 2015, Hutama Karya diberi amanah mengembangkan 2.770 kilometer jalan tol di Sumatera dengan prioritas 8 ruas pertama. Hingga tahun 2022 Hutama Karya berhasil mensukseskan penugasan pemerintah dengan mengoperasikan kurang lebih 542,8 Km.
Hutama Karya optimistis menyelesaikan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera hingga 2024 dan siap untuk mengerjakan proyek-proyek strategis nasional seperti pembangunan infrastruktur ibu kota baru. Hutama Karya resmi menggarap megaproyek kilang minyak milik PT Pertamina (Persero) di Lawe-Lawe, Kalimantan Timur.
Pada tahun 1997, WIKA mendirikan anak perusahaan pertamanya, salah satunya adalah PT WIKA Beton. Setelah itu mendirikan anak perusahaan, seperti PT WIKA Industri Konstruksi, PT WIKA Bitumen, PT WIKA Bangunan, PT WIKA Rekayasa Konstruksi, PT WIKA Realty dan PT WIKA Serang Panimbang.
Melalui Penawaran Saham Perdana (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia pada 27 Oktober 2007, WIKA melepas 28,46% saham ke publik. Sementara kepemilikan sisanya masih dipegang oleh Pemerintah Republik Indonesia.
egiatan usaha WIKA difokuskan pada optimalisasi 5 (lima) lini usaha, yaitu: 1. Investasi yang meliputi, Energi (Energi Terbarukan), Infrastruktur, dan Prasarana Air. 2. Realti & Properti, Pengembangan Real Estat & Properti dan Manajemen Properti.
Lalu nomor 3. Prasarana dan Bangunan, yang terdiri dari konstruksi sipil, konstruksi bangunan, dan konstruksi baja. 4. Proyek Energi & Industri, termasuk EPCC dan Energi Listrik, serta Proyek Energi Terbarukan.
Selanjutnya ke-5.Industri, sektor industri WIKA memproduksi Beton Pracetak, Industri Konstruksi, Kendaraan Bermotor Listrik, dan Produksi Aspal.
3. Hutama Karya
PT Hutama Karya (Persero) adalah perusahaan milik negara Indonesia yang bergerak di bidang konstruksi. Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan swasta “Hollandsche Beton Maatshappij” dari Belanda pada tahun 1960.Dengan nama Hutama Karya NP, perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia ini secara resmi diratifikasi oleh Peraturan Pemerintah (PP) no. 61 tahun 1961, 29 Maret 1961. Pada tahun 1961, pekerjaan Hutama PN dalam konstruksi bangunan bernilai historis dan monumental. Misalnya, gedung MPR /RI dan monumen patung dirgantara di Jakarta.
Pada tahun 1970-an, Hutama Karya pertama kalinya menghadirkan sistem konstruksi “sistem pratekan” BBRV di Swiss dengan teknologi beton pracetak. Kemudian, Hutama Karya NP, berkembang pesat dan berubah status menjadi PT Hutama Karya.
Selama periode 1980-2016, perusahaan melakukan diversifikasi dan memperluas operasinya di luar negeri. Selain itu, membangun infrastruktur teknologi tinggi dalam bentuk jembatan bentang panjang seperti Jembatan Ampera di Palembang.
Memasuki era milenial dimana dinamika perekonomian semakin pesat, Hutama Karya merevitalisaasi diri dengan melakukan pengembangan usaha untuk sektor-sektor swasta melalui pembangunan High Rise Building (Bakrie Tower dan Apartemen-Apartemen) maupun infrastruktur lainnya seperti jalan tol.
Pada 2014, Hutama Karya resmi menerima penugasan Pemerintah untuk mengembangkan Jalan Tol Trans-Sumatera. Tahun 2015, Hutama Karya diberi amanah mengembangkan 2.770 kilometer jalan tol di Sumatera dengan prioritas 8 ruas pertama. Hingga tahun 2022 Hutama Karya berhasil mensukseskan penugasan pemerintah dengan mengoperasikan kurang lebih 542,8 Km.
Hutama Karya optimistis menyelesaikan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera hingga 2024 dan siap untuk mengerjakan proyek-proyek strategis nasional seperti pembangunan infrastruktur ibu kota baru. Hutama Karya resmi menggarap megaproyek kilang minyak milik PT Pertamina (Persero) di Lawe-Lawe, Kalimantan Timur.
Lihat Juga :