alexa snippet

IATA Terbitkan Rights Issue Cari Rp81 Miliar

IATA Terbitkan Rights Issue Cari Rp81 Miliar
Kiri-kanan: Komisaris Independen Christophorus Taufik, Presiden Direktur Henry Suparman, Presiden Komisaris Syafril Nasution, Wakil Presiden Direktur Wishnu Handoyono & Komisaris Andre Frely Ering. (Foto: Dok.MNC Media)
A+ A-
JAKARTA - PT Indonesia Transport and Infrastructure Tbk., (IATA) berencana mengembangkan sektor infrastruktur untuk pelabuhan batu bara dan penerbangan. Perseroan menargetkan mendapatkan tambahan dana dengan menerbitkan saham baru (HMETD) sebesar 10% atau meraih dana segar sebanyak Rp81 miliar. Perseroan menargetkan menjalankan bisnis infrastruktur dan transportasi secara terintegrasi.

Wakil Presiden Direktur IATA, Wishnu Handoyono mengatakan, pendanaan tersebut untuk mengembangkan bisnis pelabuhan batu bara, bandara, penerbangan, serta sektor bisnis lainnya. Pihaknya menargetkan total belanja modal tahun ini mencapai Rp100 miliar. Namun, total belanja modal ini masih bergantung pada besaran Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (rights issue) ataupun pinjaman pihak ketiga.

“Kami akan lakukan rights issue sebesar 10% atau Rp80 miliar. Kalau kami lihat aset perseroan yang mencapai USD108 juta dolar dengan ekuitas USD58 juta. Masih ada ruang berutang mencapai USD19 juta atau Rp225 miliar. Kami masih bisa mengembangkan usaha strategis utama dan dapat dana dari pihak ketiga,” ujar Wishnu usai RUPST dan RUPSLB perseroan di Jakarta, Kamis (28/4/2016).

Dia melanjutkan target capex Rp100 miliar masih belum ditentukan penggunaannya. Nantinya penggunaan dana right issue itu akan dilakukan RUPS ulang. Kemungkinan aksi korporasi tersebut akan dilakukan di semester dua tahun ini. Ekspansi untuk pelabuhan pertambangan dikembangkan di Kalimantan Timur. Pihaknya siap menggandeng perusahaan tambang di radius hingga 50 km seputar pelabuhan.

“Pelabuhan punya batasan lokasi 40-50 km yang efisien kalkulasi bisnisnya. Lokasi pertambangan dengan radius 50 km merupakan potensi diajak bermitra. Mereka yang didekati merupakan murni perusahaan swasta,” ujarnya.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST)ini, disepakati perombakan jajaran komisaris dan direksi. Di antaranya adalah perubahan posisi Henry Suparman dari komisaris menjadi Presiden Direktur.

(Baca: IATA Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris)

Selain itu, dalam RUPST kali ini, Presiden Direktur IATA Henry Suparman mengungkapkan bahwa perusahaan telah memutuskan untuk tidak melakukan pembagian dividen. "Kami menyetujui untuk tidak membagikan dividen untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2015. Kami masih mengalami kerugian kurs di tahun lalu karena utang luar negeri dalam USD. Tahun ini diharapkan rupiah stabil dan antisipasinya pendapatan seluruhnya dalam USD," kata Henry dalam kesempatan yang sama.

Adapun susunan dewan komisaris dan direksi perseroan yang baru adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris Sebelumnya

Presiden Komisaris: Hary Tanoesoedibjo
Komisaris: Henry Suparman
Komisaris Independen: Christophorus Taufik

Dewan Komisaris Baru

Presiden Komisaris: Syafril Nasution
Komisaris: Andre Frelly Ering
Komisaris Independen: Christophorus Taufik
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Facebook
  • Disqus
loading gif
Top