China dan Barat Berlomba Menguasai Lithium di Afrika, Siapa Pemenangnya?

Rabu, 21 Juni 2023 - 04:34 WIB
loading...
A A A
Menurut sumber yang dekat dengan proyek ini menerangkan, pemodal asal China jauh lebih mungkin mengambil risiko besar daripada barat dan bank komersial. Sedangkan penambang junior Afrika menghadapi perjuangan berat di pasar modal sebelum beralih ke lithium.

Sementara pejabat AS dan Eropa telah mempromosikan kemitraan Afrika dan menyusun daftar mineral penting, investor China tidak hanya membeli tambang Afrika untuk memproduksi mineral ini, tetapi juga membangun kilang untuk memproses output mereka.

China berada jauh di depan dalam hal mengubah logam menjadi bahan baku baterai, dimana Badan Energi Internasional memperkirakan bagiannya dari kapasitas penyulingan global sebesar 58%. Sampai fasilitas serupa beroperasi di Eropa, AS, atau Afrika sendiri, China akan menjadi pelanggan utama lithium Afrika.

"Jelas (bahwa) Afrika lebih dekat ke Eropa dan pengiriman produk ke suatu tempat di Eropa akan masuk akal secara ekonomi, tetapi China telah menempatkan banyak infrastruktur di tempat," kata Bernard Aylward, kepala eksekutif Kodal Minerals, pengembang lithium yang terdaftar di London.

Kodal Minerals yang aktif di Mali, tahun ini menerima pendanaan lebih dari USD110 juta dari anak perusahaan Fosun Hainan Mining.

Perusahaan China terus berinvestasi dalam pasokan lithium di Afrika dan Amerika Latin, bahkan ketika harga lithium rendah. Ketika Australia membangun pabrik pengolahan domestik untuk kekayaan mineralnya sendiri dan setelah pemerintah Kanada memerintahkan investor China untuk melakukan divestasi dari perusahaan pertambangan Kanada tertentu, China terus mencari.

"Kita harus adil kepada China," kata Hadley Natus, Chairman Tantalex dari group yang mengeksplorasi lithium di Republik Demokratik Kongo.

"Mereka memasukkan uang jauh sebelum orang lain melakukannya," bebernya.

Saling Tebar Pesona

Dihadapkan dengan dominasi China dalam rantai pasokan lithium, para pejabat Barat mengajukan tawaran investasi mereka ke negara-negara Afrika sebagai alternatif yang lebih bertanggung jawab secara sosial.

Rekanan Afrika "melihat kami sebagai wasit yang adil, sebagai seseorang yang dapat membantu transparansi yang lebih besar," kata Menteri Industri dan Keamanan Ekonomi Inggris Nusrat Ghani, yang bertanggung jawab atas mineral kritis.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
10 Negara Penguasa Cadangan...
10 Negara Penguasa Cadangan Logam Tanah Jarang Dunia
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Rekomendasi
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Tepis Isu Menguntungkan...
Tepis Isu Menguntungkan Kapolri, Pakar: UU Polri Baru Berpihak pada Kepentingan Publik
Kanada vs Bosnia Imbang...
Kanada vs Bosnia Imbang 1-1 di Laga Pembuka Grup B Piala Dunia 2026
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved