Enam Menteri dengan Anggaran Jumbo Dipanggil ke Istana, Ada Apa?
Minggu, 26 Juli 2020 - 08:43 WIB
loading...
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan ada enam menteri dengan anggaran jumbo dipanggil ke Istana Negara. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan ada enam menteri dengan pengelolaan anggaran terbesar dipanggil Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Istana Negara. Presiden meminta kepada sejumlah menteri tersebut untuk bergerak cepat memotong anggarannya untuk dialihkan untuk mendukung pembiayaan penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi.
"Enam kementerian dengan anggaran tertinggi dipanggil ke istana karena mereka memiliki anggaran yang cukup tinggi dan semuanya kita panggil. Kementerian dan Lembaga yang anggaranya rendah juga kita panggil," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Minggu (26/7/2020).
Baca Juga: Pemotongan Anggaran Kementerian Harus Tepat Sasaran
Menurut dia pemanggilan enam menteri dengan anggaran jumbo tersebut juga diminta tidak segan memangkas anggaran demi kesehatan masyarakat dan percepatan pemulihan ekonomi. Presiden, kata Sri Mulyani, telah meminta agar seluruh menteri tanggap bahwa kondisi saat ini sedang krisis sehingga upaya yang dilakukan tidak bisa hanya biasa-biasa saja sehingga seluruh kementerian dan lembaga punya upaya dan ritme yang sama dalam bekerja.
"Kita harus bekerja sense of crisis, feeling dan frekuensi harus sama, karena itu langkah-langkah extraordinary kita lakukan dalam penanganan virus corona," tandas dia.
"Enam kementerian dengan anggaran tertinggi dipanggil ke istana karena mereka memiliki anggaran yang cukup tinggi dan semuanya kita panggil. Kementerian dan Lembaga yang anggaranya rendah juga kita panggil," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Minggu (26/7/2020).
Baca Juga: Pemotongan Anggaran Kementerian Harus Tepat Sasaran
Menurut dia pemanggilan enam menteri dengan anggaran jumbo tersebut juga diminta tidak segan memangkas anggaran demi kesehatan masyarakat dan percepatan pemulihan ekonomi. Presiden, kata Sri Mulyani, telah meminta agar seluruh menteri tanggap bahwa kondisi saat ini sedang krisis sehingga upaya yang dilakukan tidak bisa hanya biasa-biasa saja sehingga seluruh kementerian dan lembaga punya upaya dan ritme yang sama dalam bekerja.
"Kita harus bekerja sense of crisis, feeling dan frekuensi harus sama, karena itu langkah-langkah extraordinary kita lakukan dalam penanganan virus corona," tandas dia.
Lihat Juga :