Lakukan Redenominasi Saat Ini Bisa Jadi Bumerang buat Ekonomi

Minggu, 09 Juli 2023 - 14:50 WIB
loading...
Lakukan Redenominasi...
Redenominasi yang terburu-buru bisa ciptakan hiperinflasi. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Pemerintah telah mencanangkan redenominasi rupiah ke dalam rencana strategis Kementerian Keuangan di periode 2020-2024, namun rencana tersebut hingga kini masih belum membuahkan hasil. Redenominasi berupa penyederhanaan rupiah , dari Rp1.000 ke Rp1, misalnya.

Baca juga: Ramai Diperbincangkan, Apa itu Redenominasi Rupiah?

Ekonom sekaligus Direktur CELIOS, Bhima Yudhistira, menyebutkan bahwa sebenarnya manfaat positif redenominasi dapat meningkatkan efisiensi transaksi keuangan, penyederhanaan laporan keuangan, mencegah kesalahan penghitungan uang tunai karena nominal yang terlalu banyak.

"Jika Bank Indonesia (BI) mau melakukan redenominasi, sebaiknya buat roadmap atau peta jalan dulu sehingga masyarakat dan pelaku usaha bisa bersiap misalnya selama 7-10 tahun. Setiap tahunnya ada program dan evaluasi, untuk memastikan redenominasi berhasil," ungkap Bhima kepada MNC Portal Indonesia di Jakarta, Minggu (9/7/2023).

Dia menilai bahwa redenominasi masih belum tepat dilakukan dalam jangka pendek. Beberapa pertimbangan sebelum melakukan redenominasi, yakni stabilitas inflasi harus terjaga.

"Pra kondisi ideal adalah inflasi kembali ke level pra pandemi dulu atau di kisaran 3%. Lebih rendah dari itu lebih bagus. Sekarang inflasi masih di kisaran 4% dan ada ancaman El Nino buat inflasi bisa naik lagi," ujar Bhima.

Dia mengatakan, pertimbangan utama jika memaksa redenominasi di saat inflasi masih tinggi adalah kekhawatiran terjadinya hiperinflasi. Fenomena ini dipicu oleh perubahan nominal uang hasil redenominasi mengakibatkan para pedagang untuk menaikkan pembulatan harga ke atas.

"Misalnya harga barang sebelum pemangkasan nominal uang Rp9.200 kemudian ga mungkin kan jadi Rp9,5 pascaredenominasi, yang ada sebagian besar harga dijadikan Rp10. Ada pembulatan nominal baru ke atas. Akibatnya harga barang akan naik signifikan, ini sulit dikontrol oleh pemerintah dan BI. Akibatnya apa? Hiperinflasi yang memukul daya beli," ucapnya.

Bhima mengatakan, Indonesia perlu mengambil pelajaran dari kegagalan redenominasi dari Brazil, Rusia dan Argentina karena kurangnya persiapan teknis, sosialisasi, kepercayaan terhadap pemerintah rendah, hingga momentum saat ekonomi alami tekanan eksternal.

"Dengan jumlah penduduk dan unit usaha yang cukup besar di Indonesia, setidaknya butuh waktu 10-15 tahun persiapan sejak regulasi redenominasi dibuat. Menjelang pemilu risiko redenominasi gagal juga tinggi," terang Bhima.

Selanjutnya, dia menyarankan agar momentum pemulihan ekonomi sebaiknya jangan ada kebijakan yang kontraproduktif. Penyesuaian terhadap nominal baru akan memengaruhi administrasi dan akuntansi puluhan juta perusahaan di Indonesia.

"UMKM saja ada 65 juta unit usaha. Alih-alih mau fokus dalam fase pemulihan ekonomi, pelaku usaha akan sibuk mengatur soal nominal harga di barang yang dijual, bahan baku bahkan administrasi perpajakan," sambungnya.

Baca juga: Inilah 13 Mobil Paling Nggak Laku di Amerika Sepanjang 2023

"Saya kira momentum redenominasi perlu dikaji secara serius, jangan terburu-buru dan benar-benar ketika kondisi ekonomi sudah stabil. Inflasi stabil, kurs juga tidak fluktuatif berlebihan baru BI dan pemerintah bahas rencana redenominasi," tandas Bhima.

(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Tergerus Sentimen...
Rupiah Tergerus Sentimen Eksternal, Hari Ini Berakhir Tembus Rp17.843 per USD
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Rupiah Menguat Tipis...
Rupiah Menguat Tipis dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Rekomendasi
Dari Sopir Bus Mendadak...
Dari Sopir Bus Mendadak Jadi Pemimpin Negara? Ini Serunya Microdrama Love In A Fallen Nation di V+Short
Prancis Favorit, Mbappe...
Prancis Favorit, Mbappe Bidik Rekor Baru saat Hadapi Irak
Adhyaksa FC Pindah Homebase...
Adhyaksa FC Pindah Homebase ke Kalimantan Tengah, Buka Peluang Ganti Nama Jadi Kalteng FC
Berita Terkini
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Perkuat Layanan Digital...
Perkuat Layanan Digital melalui Care+, LGI Hadirkan Fitur Wellness
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
MyPertamina Gelar Program...
MyPertamina Gelar Program Pesta Bola, Tingkatkan Engagement melalui Ekosistem Digital
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Insentif Motor Listrik...
Insentif Motor Listrik Ditunda Satu Bulan, Menko Airlangga: Masih Dikaji
Infografis
3 Keutamaan Surat Al...
3 Keutamaan Surat Al Mulk, Bisa Jadi Syafaat Kelak di Hari Kiamat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved