Terkuak! Ini Alasan Sesungguhnya Eropa Jegal Produk Sawit Indonesia

Senin, 14 Agustus 2023 - 19:07 WIB
loading...
Terkuak! Ini Alasan...
Harga yang kompetitif menjadi keunggulan minyak sawit. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Ketua Dewan Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Insitute (PASPI) Bungaran Saragih mengatakan, minyak kelapa sawit Indonesia telah berhasil memenangi persaingan dagang di antara minyak nabati lainnya. Dari sisi harga, minyak nabati dari sawit punya harga lebih murah dibandingkan dengan produk minyak nabati lain.

Baca juga: Hari Ini Kejagung Periksa Eks Mendag M Lutfi terkait Kasus Korupsi Ekspor CPO

Daya saing harga itu yang menjadi faktor terkuat minyak sawit Indonesia cukup menguasi ceruk pasar minyak nabati dunia.

"Harga minyak sawit jauh lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lain telah menggeseer persaingan minyak nabati dunia," ujar Bungaran saat peluncururan buku Mitos Vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia, Senin (14/8/2034).

Bahkan menurutnya saat ini perdagangan minyak nabati di dunia bukan lagi berkompetisi dari sisi harga, namun sudah ke arah isu keberlanjutan, terutama dampak dari proses produksi minyak nabati terhadap lingkungan.

"Persaingan minyak nabati dunia telah bergeser, dari price competition jadi non price competition. Kenapa? Karena mereka ga bisa bersaing dalam price competition, maka dipake non price competition," sambung Bungaran.

Bungaran melanjutkan, adanya kebijakan EUDR (EU Deforestation Regulation) yang saat ini akan diterapkan oleh Uni Eropa merupakan salah satu instrumen yang dipakai dalam persaingan non price competition. Sebab kebijakan tersebut akan memperketat minyak sawit untuk masuk ke pasar Uni Eropa.

"Salah satu isu yang digunakan non price competition melawan sawit adalah isu keberlanjutan. Baik dari sisi keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan," lanjutnya.

Dari sisi keberlanjutan, Bungaran menilai sawit Indonesia pun sudah tergolong berkelanjutan sebab sudah memiliki standar yang ditetapkan pemerintah lewat sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Tapi negara seperti Uni Eropa pun saat ini punya standar tersendiri soal konsep keberlanjutan.

"Masalahnya, keberlanjutan yang dituntut adalah keberlanjutan yang absolut (absolute sustainability) yang hanya ada di dunia teoritis dan tidak akan pernah ada di dunia nyata. Dalam konsep sustainability absolut, pilihannya ada dua, hitam atau putih, yakni sustainable atau unsustainable," kata Bungaran.

"Menurut pendapat saya, konsep keberlanjutan yang realistis juga diadopsi oleh SDGS yaitu keberlanjutan yang relatif (relative sustainability). Semuanya relatif, ga tau level sustainability di mana, tapi itu adalah perjalanan menjadi lebih baik dari kemarin," lanjutnya.

Pada kesempatan tersebut, Bungaran juga menyebutkan bahwa industri kelapa sawit ini cukup berkontribusi terhadap devisa negara. Bahkan pada tahun 2022 lalu, kontribusinya terhadap devisa negara tembus USD50 miliar atau setara dengan Rp765,33 triliun.

Baca juga: Anggota Polisi di Sidrap Aniaya Tahanan yang Masih Berusia 16 Tahun

"Tahun 2022, industri sawit sumbangkan devisa dari ekspor produk sawit sekitar USD39 miliar. Menghemat devisa dari mandatory biodiesel sekitar USD10,3 miliar. Sehingga secara keseluruhan industri sawit menyumbang devisa hampir mencapai USD50 miliar. Belum ada komoditas seperti itu kontribusinya," pungkasnya.

(uka)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Selamatkan Petani, Peran...
Selamatkan Petani, Peran DSI dalam Tata Niaga Sawit Disebut Perlu Evaluasi Ulang
Ini Jenis Produk Sawit...
Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Sertifikasi RSPO Kunci...
Sertifikasi RSPO Kunci Akses Pasar dan Penguatan Petani Sawit Swadaya
BPDP, Ditjenbun dan...
BPDP, Ditjenbun dan AKPY Latih 122 Pekebun Sawit OKI Tingkatkan Kualitas Panen
Petani Sawit: Margin...
Petani Sawit: Margin dan Kewenangan BUMN Tentukan Harga Jadi Beban Berat Ekosistem Sawit
Danantara Janji Ajak...
Danantara Janji Ajak Diskusi Pengusaha Tentukan Acuan Harga Komoditas yang Dibeli PT DSI
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
119 Pekebun Morowali...
119 Pekebun Morowali Ikuti Pelatihan Sawit di Palu, Fokus ISPO hingga Pemetaan Kebun
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Rekomendasi
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Permintaan Uang oleh Kanim Ngurah Rai dan Denpasar saat Periksa 2 Biro Jasa
Stafsus Menag Bertemu...
Stafsus Menag Bertemu Pengurus Rumah Doa Methodis Injili Jemaat Filadelfia Bandung
Transjakarta Rute Tanah...
Transjakarta Rute Tanah Abang–Blok M dan Tj Priok–Kp Rambutan Berhenti Beroperasi 1 Juli
Berita Terkini
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
Rumah BUMN SIG di Rembang...
Rumah BUMN SIG di Rembang Catat Transaksi Rp6,9 Miliar
MSIN Putuskan Tak Bagi...
MSIN Putuskan Tak Bagi Dividen, Fokus Perkuat Platform Digital
UATAS dan AFPI Ajak...
UATAS dan AFPI Ajak Mahasiswa Bijak Kelola Keuangan
Kinerja Solid, Laba...
Kinerja Solid, Laba Bersih MSIN Melonjak 140% Jadi Rp985 Miliar di 2025
PLN EPI Dorong Zero...
PLN EPI Dorong Zero Waste lewat Pengelolaan Sampah Terpilah dan Daur Ulang
Infografis
20 Universitas Terbaik...
20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved